Badai Dalam Sepotong Cinta

Cinta yang berlebihan tidak menguntungkan Anda.

APA yang Anda ketahui tentang perempuan? Itu adalah pertanyaan yang muncul ketika saya melihat Medusa – perempuan berambut ular yang membuat setiap orang yang menatapnya menjadi batu – di salah satu halaman buku mitologi Yunani. Dan pada saat yang bersamaan, bayangan Melani berkelebat.

“Cinta adalah khayalan bahwa seorang perempuan berbeda dari perempuan lain.”
-H.L. Mencken-

Saya pertama mengenalnya di sebuah gedung yang sering digunakan oleh sebuah kine club untuk memutar film-film klasik. Tubuhnya kurus seperti model yang biasa melenggang di atas catwalk. Matanya hitam dan dalam. Kulitnya putih dan wajah sedikit pucat dengan rona merah muda yang kontras di pipi. Mencintai komposisi Come, Gentle Death-nya J. S. Bach.

“Bagaimana Oliver Stone menurutmu?” tanyanya saat kami keluar dari gedung itu pada akhir pekan ke lima dalam sejarah perkenalan kami.

“Aku lebih suka Tarantino,” jawab saya.

“Oh, jadi kamu tipe pria yang menyukai hal-hal yang radikal dan mendobrak, yah?”

Yah, ampun! Ini cara baru untuk menebak-nebak karakter seseorang. Apakah Anda adalah seorang psikopat, pecundang, atau pemula tergantung pada jenis film yang Anda tonton. Seperti apa perempuan yang menyukai film sejenis Natural Born Killers?

“Tapi untunglah kamu bukan jenis yang membuat aku kehilangan selera. Ada pria-pria tertentu yang seperti itu,” katanya lagi sambil tertawa kecil sembari membenahi anak rambutnya yang jatuh ke belakang telinga.

“Pria seperti apa yang membuat kamu kehilangan selera begitu melihatnya?” tanya saya penuh ketertarikan.

“Pria yang hobi memakai sepatu sandal,” katanya.

“Kenapa? Apa yang salah dengan sepatu sandal?” tanya saya sedikit kecewa karena mengharapkan jawaban yang lebih masuk akal dari itu.

“Tidak ada yang salah, hanya membuat saya hilang selera saja,” katanya lagi.

Oke, saya tetap nekad mengencaninya meskipun dalam banyak hal saya tidak bisa memahami Melani dan kepribadiannya yang terpecah-pecah antara kegilaan intelektual dan kemanjaan seorang Cinderella. Itu juga mungkin yang membuat saya merasa Melani berbeda daripada sekian banyak perempuan yang saya pernah kenal sebelumnya.

Belakangan ini saya menjadi orang yang paling tidak setuju bila ada yang bilang bahwa inovasi telpon seluler adalah terobosan revolusioner dalam metode komunikasi antar manusia.

Dering telpon sudah cukup untuk membuat saya menjadi seorang paranoid. Melani terus-menerus menelpon saya selama seminggu ini – menyodorkan berbagai rencana atau mengucapkan selamat atas sesuatu yang tidak penting.

Senin: “Nomat, yuk?!”
Selasa: “Makan siang, yuk?!”
Rabu: “Bisa temani aku ke Glodok?”
Kamis: “Hei, di Pasar Seni – Ancol ada musik Jazz nanti malam!”
Jumat: “Bagaimana kalau kita pergi ke Kemang – ada pemutaran film Indie malam ini?”
Sabtu: “Met bobo, yah.”
Minggu: “Ini akhir pekan yang paling menyenangkan buatku.”

Dan selama seminggu itu, saya kehilangan waktu dan -terutama- mood untuk menyelesaikan artikel ini.

“Jika ini kopi, tolong bawakan saya teh; tetapi kalau ini teh, tolong bawakan saya kopi.”
-Abraham Lincoln–

Semula saya kira saya punya masalah dengan waktu atau pengaturannya. Tetapi kemudian saya sadar berapapun waktu yang saya miliki tetap saja tidak akan pernah cukup sepanjang itu terkait dengan Melani. Terlalu banyak tuntutan – terlalu sedikit waktu.

“Menurut survey, perempuan usia menjelang 30 sedang menggebu dalam urusan seks dan menuntut perhatian lebih besar,” kata Melani ketika saya dengan sehalus mungkin memintanya agar tidak terlalu sering mengganggu saya dengan segala macam rencana dan telpon yang tidak penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *