splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Bintan Trip: Keliling Pantai Trikora

Posted By dny on August 23rd, 2012

SETELAH insiden dini hari tadi selaku fotografer amatir, menjelang siang kami memutuskan untuk mulai melihat-lihat keluar. Ternyata harga sewa motor dari penginapan adalah Rp 50 ribu per jam atau Rp 250 ribu per hari. Mahal! Dan itu harga untuk turis lokal. Sepeda? Tidak ada. Padahal pilihan pertama kami sebelum sampai ke tempat ini sebenarnya adalah sepeda.

Sambil menimbang-nimbang, kami berjalan kaki keluar, menyusuri jalan beraspal yang mulai terik, berharap menemukan tempat penyewaan motor dengan harga yang lebih masuk akal. Tapi setelah berjalan kaki cukup jauh, kami merasa tidak akan mendapatkannya. Tidak seperti di Bali, sepertinya penduduk lokal belum tergantung sepenuhnya pada pariwisata. Kendaraan umum pun kami tidak pernah jumpai di sini. Akhirnya kami kembali ke hotel dan memutuskan untuk menyewa motor per jam – masih dengan harapan di perjalanan kami dengan motor nanti akan menemukan tempat penyewaan motor dengan harga murah.

Singkat cerita, kami mulai menyusuri jalan aspal sepanjang Pantai Trikora yang – menurut beberapa blog – panjangnya 25 kilometer. Pantai Trikora sebenarnya bagus. Warna pasirnya putih – namun di beberapa spot warnanya agak cokelat. Paduan warna pasir yang putih dan rumput laut yang banyak tersebar di laut dangkalnya serta pantulan langit biru membuat warna airnya biru muda dan hijau pupus di beberapa tempat.

Saat terbaik untuk menikmati Pantai Trikora adalah pada pagi hari ketika pengunjung – mayoritas penduduk lokal – belum banyak berdatangan. Pada pagi hari, pantai ini sepi sekali. Sayangnya, pasang-surut air di Pantai Trikora tergolong ekstrem. Ketika air surut, bibir pantai bisa bergeser mundur sampai beratus-ratus meter – menyisakan hamparan lumpur dan rumput laut. Pada bulan kami datang ini, air surut mulai dari menjelang senja dan mulai pasang lagi pada pukul 11.00. Jadi waktu terbaik kedua tentunya adalah antara pukul 13.00-15.00 ketika air pasang maksimal. Sayangnya pada jam itu pantai sudah mulai ramai dikunjungi penduduk lokal yang berlibur dalam suasana Lebaran. Entah pada bulan-bulan yang lain.

Pantai Trikora bisa dibilang adalah pantai rakyat, berbeda dengan kawasan Lagoi yang dikembangkan sebagai tujuan wisata kaum elit. Namun demikian tetap saja pantai ini tidak bisa dibilang murah. Maklumlah, Bintan merupakan weekend gateaway-nya penduduk Singapura. Tidak heran bila tulisan-tulisan tentang Bintan di blog-blog – perkiraan kasar saya – separuhnya dibuat oleh turis-turis Singapura.

Satu hal lagi yang menarik – karena ini hal baru bagi saya – adalah otak-otak. Makanan khas lokal ini berbeda dengan otak-otak biasa. Warnanya kuning karena adonan daging ikannya langsung dicampur dengan bumbu dan sambal, dipanggang dengan dibungkus dengan daun kelapa. Matang, langsung kunyah. Tidak perlu celupkan lagi ke bumbu atau sambal seperti otak-otak biasa. Jajanan ini bisa ditemui berjejer-jejer di sepanjang Pantai Trikora. Harganya Rp 500 satu buah. Jadi jangan beli hanya 10 buah – seperti yang saya lakukan pertama kali. Orang-orang lokal biasa beli sampai ratusan buah.

Di laut, di depan Ocean Bay Resort, teronggok dua pulau – Pulau Beralas Bakau dan Pulau Beralas Pasir. Pulau Beralas Bakau berwarna kehijauan dan gelap karena – seperti namanya – penuh dengan pohon bakau. Menurut informasi yang kami dapat, di Pulau Beralas Bakau ini banyak kelelawar sehingga di sana pastinya sangat bau. Dan banyak serangga bernama adas yang gigitannya bisa menimbulkan gatal selama berhari-hari. Sedangkan Pulau Beralas Pasir begitu menggoda karena dari jauh sudah terlihat hamparan pantainya yang berpasir putih – berkilau memantulkan sinar matahari.

Dan hari ini kami memutuskan untuk menyewa perahu motor untuk berlayar ke sana. Sewa perahu motor seharga Rp 250 ribu per tiga jam. Jarak tempuh dari Ocean Bay Resort menuju Pulau Beralas Pasir adalah 15 menit.

Mula-mula, kami snorkelling di lepas pantai Pulau Beralas Pasir. Airnya tidak terlalu jernih. Jarak pandang terbatas. Terumbu karangnya pun tidak terlalu bagus. Menurut tukang perahu yang membawa kami, terumbu karang di sini sudah hancur sejak beberapa tahun lalu karena kebiasaan buruk nelayan lokal yang menggunakan bom ikan. Ikan-ikan di sini pun tidak terlalu banyak ragamnya. Arusnya cukup deras meskipun permukaannya terkesan tenang.

Semula kami berniat untuk mendarat di Pulau Beralas Pasir. Namun, tukang perahu yang membawa kami tidak menyarankan. Begitu menjejakkan kaki harus bayar 1 dolar Singapur, katanya. Dan tidak terlalu banyak yang bisa dinikmati di sana. Jadi, setelah puas snorkelling di lepas pantai Pulau Beralas Pasir, kami dibawa ke lepas pantai Pulau Beralas Bakau – dan kembali snorkelling di sana. Kondisinya sama – kalau bukannya lebih buruk daripada lepas pantai Pulau Beralak Pasir.

Tags: , , , ,

Similar Posts
Posted in Traveling
  • uti

    mau tanya apakah ada kontak person untuk sewa kapal di trikora?makasi

  • dny

    Wahh saya ngga punya. Tapi rata2 hotel yg ada di pinggir pantai trikora punya kok kontak utk sewa kapal.

Read more:
Repost: Kertas Linting Merek “MELAWAN”

TEMBAKAU kiloan beli di Beringharjo dan kertas linting merek "MELAWAN". Apalagi yang kita punya selain waktu dan kemiskinan. Jangan pandang...

Close