splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Bukan Sekedar Seks

Posted By dennyhariandja on August 12th, 2004

Seks tidak pernah benar-benar sekedar seks..

DI MEJA BAR sebuah kafe. Kehidupan bergerak marak. Kegembiraan akhir pekan meluap – atmosfir seperti sesak dengan gairah. Sementara saya gelisah berusaha melupakan deadline dan menunggu mood yang tidak juga bersahabat. (Yah, ke-moody-an saya juga membuat jadwal bercinta saya dengan Noni menjadi tidak menentu). Saya merasa hidup di dalam sebuah roller-coaster. Sialnya saya tidak bisa meloncat keluar dan hanya bisa membiarkan waktu lewat begitu saja bersama beberapa gelas bir.

Jika segala sesuatunya masih di bawah kendali Anda artinya Anda belum bergerak cukup cepat.”
–Mario Andretti-

Seorang perempuan melintas dengan langkah yang anggun – seperti macan betina yang mengendus bahaya. (Saya membayangkan cakaran kukunya di punggung saya ketika bergulat di tempat tidur). Kilatan lampu menjilat tubuhnya – menciptakan siluet yang kontras antara bayangan gelap dan kulitnya yang lencir. Ia berjalan ke arah deretan bangku di meja bar yang melingkar, melewati saya, dan berhenti di sebuah bangku kosong di sisi luar sebuah kelompok – empat perempuan dan dua orang pria, teman-temannya. Di sisi luar yang lebih dekat ke arah saya – hanya terpisah dua bangku. Untunglah!

Dan saya pun beringsut.

Perempuan itu masih seperti semula – tubuhnya sedikit menyerong sehingga saya hanya bisa melihat sebagian wajah dan garis hidungnya membentuk garis yang manis dan bahunya yang telanjang. Ia sedikit bersandar pada meja bar dan tangan kirinya bertelekan pada meja. Tangan kanannya berada di atas pahanya dengan gaya yang memukau. Kaki dan kepalanya bergerak kecil mengikuti irama lagu. Saatnya untuk menegaskan kehadiran saya, pikir saya.

“Perbedaan antara (foto) pornografi dan erotika adalah pencahayaan.”
-Gloria Leonard–

“Hai, musiknya bagus, yah?” kata saya agak mencondongkan badan ke arahnya (tetap dalam jarak yang aman) sambil mengangkat dagu ke arah band amatir yang memainkan akustik di panggung.

“Apa?” teriaknya mencoba mengatasi kerasnya vibrasi musik.

“Saya tahu tempat yang musiknya lebih asyik daripada ini,” bisik saya di telinganya.

Ia tersenyum masam sambil mengangkat bahu. Dan saya tahu saya telah mulai dengan langkah yang tidak terlalu pintar.

Dalam banyak hal, saya percaya bahwa pria dan wanita adalah binatang yang sama. Keduanya mencintai seks dengan cara yang berbeda. Tetapi Erin, 27 tahun, administrator di sebuah perusahaan asing, 170/58/34C, bukan perempuan yang gampang diajak ke tempat tidur. Saya mengingat kembali kencan kami beberapa hari lalu (tiga hari setelah perkenalan di kafe yang saya kira tidak dimulai dengan cukup bagus) – ketika ia demikian kukuh menghantam para pria di kiri maupun kanannya dengan sebutan: binatang jalang di musim kawin.

“Pria dimana-mana sama saja. Seks memakan terlalu banyak tempat di otaknya,” kata Erin beralasan – seperti ingin menjelaskan mengapa ia begitu sulit untuk dimintai nomor teleponnya pada perjumpaan pertama kami.

Itu juga sebabnya mengapa ia selalu pergi dengan lebih dari dua orang teman untuk bersenang-senang. Sebuah perlindungan – yang baru bisa saya kuasai setelah saya meminta bartender untuk menyediakan beberapa shot flaming bikini untuk mereka.

“Anda bisa mendapatkan lebih banyak dengan kata-kata dan senjata daripada hanya dengan kata-kata.”
-Al Capone-

“Hei, bukankah berprasangka seperti itu tidak baik?” protes saya.

“Aku bisa merasakannya dari cara memandang, bicara, ataupun caranya menyentuh,” jawab Erin bersikukuh.

Biar bagaimanapun saya tetap merasa itu tidak adil – bagaimana bisa menang melawan prasangka?

“Tunggu sampai kamu menemukan suasana dan waktu yang tepat,” kata setan kecil di kepala saya.

Harus begitu! Atau semua kesibukan saya malam itu akan sia-sia. (Saya harus mengumpulkan semua nomor telepon teman-temannya malam itu dan keesokan harinya kebingungan ketika berusaha mengingat-ingat yang mana nomor telepon Erin).

Similar Posts
Posted in Writings
Read more:
Twit Berbayar: Media Sosial, Iklan Terselubung, dan Hak Konsumen

BAGI sebagian orang, twitter terlalu bising dan mengganggu karena intensitas percakapan yang mungkin berlangsung sedemikian tinggi. Bila Anda adalah salah...

Close