splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Candu Seks

Posted By dennyhariandja on November 23rd, 2004

Saya ingin lagi, lagi, dan lebih banyak lagi.

SAYA punya masalah besar. Belakangan saya seperti tidak bisa berhenti berpikir tentang seks. Saya seperti punya keinginan menggebu-gebu untuk bercinta dengan perempuan mana pun yang lewat di depan hidung saya. Saya kurang tidur karena hampir setiap malam sampai menjelang subuh menjelajah internet – dari satu bilik percakapan seks ke bilik percakapan seks yang lain – bersama webcam saya.

Hidup saya benar-benar kacau. Benar-benar kacau karena semua perempuan yang saya temui seperti bersepakat menjauhi saya dan tawaran kehidupan asmara saya yang penuh luapan libido. Raut wajah saya sendiri seperti berkhianat dan mengirimkan tanda bahaya kepada apapun yang berpayudara dan bergerak di dekat saya. Ini benar-benar masalah gawat.

“Saya kira……itu sebabnya saya tetap lajang.”
– Lizz Winstead

Saya mengeluhkan tentang kehidupan saya yang kacau dan –terutama- perempuan-perempuan yang seperti berlari menghindari saya pada Chintya – seorang perempuan yang saya kenal lima bulan lalu melalui emailnya yang menanggapi tulisan-tulisan.. Ia satu-satunya perempuan yang sepertinya tidak terganggu dengan tatapan mata saya yang memancarkan birahi – 27 tahun, tubuh semolek Demi Moore, pendengar yang baik, berpikiran terbuka, selalu bersedia mencoba hal-hal baru yang paling gila sekalipun.

“Jelas karena matamu terlalu terus-terang, menelanjangi. Seperti sekarang, seakan-akan kamu menginterogasi tubuhku dan mengintip ukuran braku.” katanya dalam obrolan kami di sebuah kafe semalam.
“Tidak seorang perempuan pun bisa menerima tatapan seperti itu dengan tenang.”

“Saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk bercinta atau tampil di televisi.”
– Gore Vidal

Saya membuang pandangan mata saya ke pasangan yang berusaha menyembunyikan bayangan mereka di balik kegelapan sudut lounge.
“Tetapi bukankah itu hal yang biasa pada pria?” kata saya.

Siapa yang membantah bahwa seks adalah salah satu hal yang menguasai wilayah besar di otak pria – selain ego? Saya kira saya bukan satu-satunya pria yang memiliki pandangan mata berpretensi terhadap setiap wanita cantik yang lewat di depan mata saya.

Pria cenderung menganggap seks sebagai pintu masuk ke arah romantisme. (Meskipun, faktanya, mereka lebih sering berhenti di depan pintu itu daripada masuk ke dalam). Dan perempuan menganggap romantisme berjalan mendahului seks.

Tetapi kenapa perempuan tidak dapat menerima pandangan penuh hasrat seperti itu sebagai sebuah komplimen – layaknya seikat bunga atau pujian gombal “Kamu cantik sekali….dan kelihatannya kamu berbakat untuk jalan di atas catwalk”?

“Mungkin kamu ada benarnya. Tapi tidak bisakah melakukannya dengan cara lain – apapun itu selama bisa menyembunyikan seks di kepalamu barang sebentar?” ujar Chintya.

Perempuan tidak menyukai ketelanjangan yang vulgar.

Tetapi bukan persoalan itu yang utama mengganggu saya. Saya mulai mengkhawatirkan hal lain menyangkut apa yang ditanyakan Chintya kemudian.

“Coba berapa sering kamu berpikir soal seks dalam sehari ini”.

Similar Posts
Posted in Writings
Read more:
Informasi Harus Gratis

HARI INI, Detik.com memuat berita menarik tentang perkembangan pers, khususnya koran di Inggris. Berita berjudul "Media Cetak Krisis, Pers Online...

Close