splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Catatan Konyol Bersepeda: Gaya Jatuh Film Kartun

Posted By dny on January 14th, 2015

BILA Anda memulai sesuatu yang baru dengan cara konyol biasanya Anda akan beberapa kali lagi terperosok ke kekonyolan lainnya sebelum belajar atau menemukan cara yang lebih baik. Saya juga mengalami hal seperti itu. Setelah mencoba bersepeda ke kantor tanpa persiapan sama sekali – dan berakhir tertidur di tengah rapat redaksi dan pulang ke rumah dengan sepeda tersimpan di bagasi taksi – saya juga terperosok ke kebodohan yang lain lagi. Tidak cuma satu, ada beberapa. Tapi supaya tidak terdengar terlalu mempermalukan diri sendiri, baiknya saya ceritakan satu hal saja.

Sebetulnya saya tidak perlu mengalami hal konyol ini bila mendengarkan kenalan pertama saya di komunitas bersepeda. Hati-hati dengan racun gaya hidup, pesannya waktu itu. Tapi saya mengabaikannya. Alih-alih mulai membiasakan diri dengan aktivitas bersepeda ke kantor, saya malah lebih sering keluar-masuk “supermarket” sepeda – online maupun offline. Setiap kali menemukan informasi mengenai sparepart terbaru yang keren saya langsung mencari tempat yang menyediakannya – cyclo computer, derailleur, saddle, fork, helmet, crank set, pedal dan lain-lain. Penting tidak penting, meskipun tidak tahu persis apa gunanya dan apa manfaatnya untuk kemampuan bersepeda, pokoknya saya ingin sepeda saya (dan akhirnya saya sendiri) kelihatan keren. Padahal, teman yang saya sebut di atas bilang: “Yang penting itu dengkul, bukan sepedanya.” Tapi saya tidak peduli itu – bagi saya, biar lambat yang penting keren.

Jadi, pada suatu akhir pekan, saya membeli sepasang pedal dengan clip. Saya juga membeli sepatu khusus sebagai pasangannya. Saya pikir, aktivitas bersepeda saya besok akan seru sekali. Sesampai di rumah, saya pasang pedal tersebut. Saya baca juga petunjuk cara melepaskan clip dari kaitannya pada sepatu khusus yang saya beli. Saya coba juga dengan langsung memakainya berkeliling komplek tempat tinggal saya. Semuanya lancar – tidak ada masalah.

Singkat cerita, keesokan paginya saya mengeluarkan sepeda dan mengenakan sepatu baru yang berklip itu. Mengaitkannya ke clip pada pedal dan mulai mengayuh. Perjalanan dari pinggir Jakarta sampai jalan Pramuka tidak ada masalah sama sekali. Pengalaman konyol itu baru saya alami di jalan Diponegoro – hanya beberapa kilometer saja dari kantor. Ketika itu sepeda saya melaju dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba sebuah metro-mini keparat memotong jalan dan berhenti mendadak sekitar 3 meter di depan saya. Rupanya metro mini tersebut hendak menurunkan penumpangnya dengan paksa untuk berputar ke arah sebaliknya. Akibatnya, ruas jalan selebar 3 meter itu habis tertutup tubuh metro mini itu dari sisi kiri sampai kanan. Saya yang berada di belakangnya tidak mendapat celah untuk menyelinap. Saya menekan brake lever dengan kuat supaya sepeda saya berhenti sebelum menabrak penumpang yang mendadak muncul – turun dari pintu belakang metro mini. Dalam waktu beberapa detik tersebut, sepeda saya berhasil berhenti. Tapi saya lupa bahwa sepatu saya terkait pada clip pedal. Sialnya, karena belum terbiasa mengenakan clip pada sepatu dan pedal, saya tidak dapat bereaksi. Otak saya seperti tumpul – tidak tahu harus melakukan apa. Dan, saya harus menerima nasib tumbang bersama sepeda saya dengan gaya jatuh yang hanya ada dalam film-film kartun. Sialnya lagi, clip pada sepatu dan pedal terlepas dengan sendirinya begitu tubuh saya menyentuh tanah plus tertimpa sepeda. Sama sekali tidak keren.

Pelajaran dari pengalaman konyol saya ini: Anda tidak menjadi kelihatan keren ketika mendaftar keanggotaan dan masuk ke dalam gym. Tapi Anda menjadi keren ketika keluar dari sana setelah berlatih keras. Begitu juga dalam olahraga lain – apapun olahraga favorit Anda di akhir pekan.

Similar Posts
Posted in Personal Journal
Read more:
Integritas Para Pejuang

AWALNYA adalah kegalauan seorang karib. Nampaknya ia baru saja berkelana menjumpai kawan-kawan lama di masa bergerak. Itu cara dia menjaga...

Close