Dear Denny, jadilah dirimu sendiri. Di atas segala pertimbangan, turutilah jalan Heiho! – Darmanto Jatman

ADALAH sebuah rumah kecil. Tidak terletak di tengah padang rumput. Tetapi di tepi sebuah jalan yang ramai oleh suara klakson dan derum mesin kendaraan bermotor. Juga tidak ditempati oleh sebuah keluarga kecil yang berbahagia seperti dalam film klasik yang diperan-utamai Michael London itu. Tetapi dihuni oleh enam orang yang berangkat dari berbagai latarbelakang. Ada anak muda dari keluarga biasa yang tinggal di desa. Ada seorang seniman tua yang berhulu dari keluarga priyayi. Ada yang besar dalam gemerlap kehidupan kosmopolitan. Ada juga yang lahir dan besar di lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk kebudayaan massa.
Selain mereka berenam, sebenarnya sering datang berbagai orang yang menjadi penghuni sementara rumah kecil itu. Yah, kadang-kadang rumah kecil itu jadi seperti sebuah losmen tempat singgah para musafir dari negeri antah-berantah. Ada yang menetap sampai berbulan-bulan. Ada yang sangat singkat. Hanya beberapa hari atau minggu. Ada yang datang dengan baik dan pergi juga dengan baik. Ada yang datang dengan baik, namun pergi dengan kemarahan dan dendam.
Pengalaman, -kata orang bijak-, adalah guru yang terbaik. Namun, bagi para penghuni rumah kecil ini, pengalaman adalah pengalaman. Titik. Enigma.
“Kita harus bisa mencuri sesuatu dari lintasan waktu yang kita lewati”, kata pemimpin rumah kecil itu, seorang perempuan yang terkenal dengan energi kerja yang berlimpah. “Bagaimana kalau kita melakukannya sambil mencari suasana baru? Bagaimana menurut kalian kalau kita berlibur sambil merefleksikan semuanya di Yogya?”
Hening. Ada keberatan yang tidak terkatakan.
“Bukan persoalan refleksinya. Meskipun aku tidak berani berharap banyak akan ada hasilnya. Meskipun aku tidak punya keyakinan bahwa akan ada perubahan setelah refleksi tersebut. Tapi bukan perkara itu. Aku enggan meninggalkan keluargaku. Kenapa tidak kita lakukan saja dekat-dekat sini supaya aku tidak meninggalkan keluargaku terlalu jauh?” terdengar keluhan lirih dari sebuah sudut.
[…..]“Kematian itu sendiri tidak membuatku takut: adalah lompatan itu yang membuatku takut”. [….]
Tetapi keheningan tidak terpecahkan oleh bunyi lirih itu.
“Persoalannya siapa yang akan menjaga rumah selama kita pergi?” lagi kata si pemimpin rumah.
“Aku saja yah?!”, terdengar lagi suara lirih dari sudut yang lain.
‘Tidak! Aku saja!” ada sahutan lirih dari sudut yang berseberangan.
“Huussss! Jangan begitu! Kalau kalian tidak setuju dengan tempat yang dipilih, utarakanlah! Tetapi jangan dengan cara seperti itu. Nanti terjadi salah persepsi. Nanti dikira boikot!” sentakan lirih muncul dari sudut yang ketiga.
Yang lirih tetap tidak terdengar. Keheningan tak juga terpecahkan.
“Okay! Tolong dicari orang yang bisa menjaga rumah kecil kita selama kita semua pergi!” perintah sang pemimpin rumah, “dan tolong siapkan segala hal yang kita perlukan. Juga bahan-bahan yang perlu kita bicarakan”.
Dan kesibukan kembali dimulai. Segala sesuatunya kembali berjalan seperti biasa.
Kemanusiaan itu harus dijiwai. Kita mesti bersikap adil dari rumah sendiri. Seperti Musashi: “bersatunya gerak dengan hati”. Ini bukan gombalisme atau omongkosong idealis.
[…..]“Aku dikejar-kejar: aku lari, lari, dan aku terpojok di hadapan sebuah dinding; aku harus melompati dinding itu, dan aku tidak tahu apa yang ada di baliknya; itu membuatku takut”. […] “Kematian itu sendiri tidak membuatku takut: adalah lompatan itu yang membuatku takut”. [….]

Tags: darmanto jatman, featured, kenangan, pengalaman hidup, tentang malam yang gelisah