splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Cinta Hitam Putih

Posted By dennyhariandja on September 17th, 2004

Ini masalah sederhana – situasi hitam dan putih. Anda hanya perlu menentukan tempat Anda berdiri.

MALAM, 20:00, di acara launching Modesto. Shanty menyanyi dengan gayanya yang energik di atas panggung. Sementara saya terdampar di atas sofa bersama sebotol bir. Seluruh ruangan padat dengan perempuan dan lelaki berkulit kuning, bermata sipit – mengingatkan saya pada Lisa.

“Hanya itu kemampuanmu, George?”
– Muhammad Ali, dalam pertarungan melawan George Foreman, Zaire, 1974. –

Dan ketika seorang gadis bergoyang di antara teman-temannya tepat di depan saya duduk, ingatan saya pada Lisa semakin tajam. Dengan baju terusan berwarna hitam yang menempel ketat – mencetak jelas lekuk pinggul dan tonjolan di dadanya (payudara paling indah yang saya lihat malam ini). Matanya semakin menyipit ketika ia tertawa bersama teman-temannya sambil tetap menggerakkan pinggul dengan ayunan yang mengingatkan saya pada gerak liar pinggul Lisa ketika berada di atas tubuh saya.

Persetan! Saya harus bisa mendapatkan nomor teleponnya.

06:00-22:00, empat tahun sebelumnya. Saya mengenal Lisa, -bekerja di sebuah perusahaan farmasi. 25 tahun, perempuan Indonesia keturunan Tionghoa, matanya membentuk garis tajam yang mengingatkan saya pada Lucy Liu-, di pusat kebugaran sebuah hotel di Surabaya. (Kami sama-sama sedang dalam perjalanan tugas dari kantor masing-masing.)

Diawali dengan sedikit bantuan ketika ia mendapatkan kesulitan menggunakan sebuah mesin. Bertemu lagi pada saat breakfast. Kemudian dipisahkan oleh pekerjaan masing-masing setelah sebelumnya membuat janji untuk makan malam bersama.

Setelah itu, rutinitas bertukar kabar via telepon atau sms, belasan makan siang, ribuan email lucu sedikit porno, plus makan malam, film, dan pesta.

“Jangan pernah melompat bila Anda tidak tahu dimana Anda akan mendarat.”
– Anonim –

Semuanya baik-baik saja. Satu-satunya yang keliru dalam hubungan kami adalah saya tidak pernah lagi bisa mengantarnya pulang ke rumah usai kencan kami – sejak pandangan yang aneh dari kedua orangtuanya ketika pertamakali melihat saya di depan pintu rumah mereka. Yah, kami berdua baik-baik saja seandainya warna kulit kami tidak terlalu berbeda.

20:00, suatu malam/05/2004. Dan ini adalah perselisihan ke-seratus tentang hal yang sama dalam hubungan kami sejak perkenalan di Surabaya. Semuanya tidak sama lagi.

“Beri aku alasan kenapa kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini hanya karena orangtuamu ribut soal ras?” tanya saya dengan sengit, memaki peradaban manusia modern yang hipokrit.

“Jangan paksa aku memilih,” protesnya terhadap keberatan saya.

“Satu-satunya perbedaan antara saya dan orang gila adalah saya tidak gila.”
– Salvador Dali –

Kemudian Ia mulai menangis. Saya hanya bisa termangu.

“Biar bagaimanapun kamu harus memilih!” kata saya memecah keheningan.

“Aduh, kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya….,” kata-katanya terhenti ditelan sedu-sedan.

“Rasanya apa, Lisa?” tanya saya bersungut.

Tidak ada jawaban. Diam yang panjang lagi.

“Maafkan aku. Aku juga tidak pernah menginginkan semuanya jadi seperti ini,” katanya setelah jeda hening yang menyiksa.

Similar Posts
Posted in Writings
Read more:
Surviving The Layoff

PADA suatu hari kerja, dua tahun lalu, saya mengenakan pakaian lebih rapih dari biasanya. Kemeja G2000 model terbaru yang ujungnya...

Close