Cinta Lewat Monitor

Seks itu lebih dari sekedar dua pasang kaki telanjang yang saling tindih di tempat tidur.

“Saling ketertarikan yang paling menggetarkan justru terjadi di antara lawan jenis yang belum pernah bertemu sebelumnya.”
– Andy Warhol –

SEORANG perempuan Indonesia – entah di bagian mana Benua Amerika sana – muncul di layar monitor. Wajahnya mengantuk (atau mabuk?), sesekali menenggak hard liquor. Adegan selanjutnya, setelah beberapa tenggakan yang memabukkan, ia pasti akan mulai melolosi pakaiannya di depan layar monitor bak seorang penari telanjang. Kali ini penontonnya adalah para pria jalang (dan wanita) yang birahinya ogah dibungkam kesunyian malam. Saya sudah hafal dengan ritual ini setelah tujuh malam berturut-turut tenggelam dalam kesimpang-siuran gelombang data. Namanya Manda – entah nama sebenarnya.

Dan satu lagi pesta-pora dimulai di tengah jaman yang padat dengan euforia digital – meminjam istilah seorang staf IT di kantor saya. (Dia mengklaim dirinya sebagai pencipta istilah itu).

Sepotong nama baru masuk ke dalam bilik percakapan. Chelline. Klik kanan. View profile. Dan window di computer saya menampilkan profil seorang perempuan di Yahoo. Chelline, 28 tahun, perempuan, Philipina, status perkawinan tidak diketahui.

Saya mencoba langkah berikutnya. View webcam. Ditolak. Lalu sebaris kalimat muncul.

“Maaf. Aku tidak suka mempertontonkan diriku. Hanya ingin mengamati orang-orang di sini,” katanya ketika itu.

Begitulah saya mengenalnya – seorang geologis yang setiap dua minggu dia menghabiskan waktunya di sebuah hotel, di sebuah kota, di Amerika dan di Manila dua minggu berikutnya. Ia bekerja di sebuah lembaga riset internasional yang banyak membangun kontrak dengan perusahaan-perusahaan minyak dunia.

Chelline selalu berada dalam posisi stealth mode. Entah apa alasannya untuk ikut tenggelam bersama saya dan banyak pria lain yang seperti tidak ingin melewatkan kesempatan untuk masturbasi di depan monitor komputer mereka.

“Saya tahu setiap orang akan bilang mereka mencari wanita dengan citarasa humor yang baik, tetapi saya lebih mempertimbangkan ukuran payudaranya.”
– Tokoh Charlie dalam So I Married an Axe Murderer

Ia mengaku bukan seorang lesbian, bukan juga seorang biseks. Mungkin hanya seorang gila lain yang menganggap Matrix bukan sekedar film rekaan Andy Wachowsky. Atau mungkin ia hanya seorang perempuan asing yang ingin melihat tubuh pria telanjang tanpa harus pergi ke tempat-tempat seperti Casa Rosso di OZ Achterburgwal – Amsterdam. (Live show setiap malam, dengan partisipasi audiens – sebuah kalimat di brosur).

Ini memang tempat dimana perkenalan bisa berlangsung dengan cara yang amat sederhana. Obrolan kami, di luar keasyikan kami menikmati tarian telanjang di monitor, lalu melompat-lompat dari keajaiban orang-orang yang berlalu-lalang di lintasan cepat pertukaran data ini sampai ke pekerjaannya mengamati pergeseran angin, badai, tornado, dan gempa.

“Badai Ivan sedang mengganas di sini,” katanya suatu kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *