splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Cinta Perempuan Kaya

Posted By dennyhariandja on March 23rd, 2004

“Berapa banyak uang, kesuksesan, dan kekuasaan yang harus diraih seorang perempuan sebelum Anda tega menonjok mukanya?” – O.J. O’Rourke –

SAYA mengenal Noni, dengan siapa saya memiliki hubungan serius belakangan ini, di sebuah acara makan malam di restoran Italia. Rambutnya dibiarkan tergerai agak berantakan (membuatnya kelihatan seperti perempuan yang sangat terbiasa dengan tempat tidur), mengenakan blazer ketat berwarna hitam. Di usia 33 tahun, ia kelihatan matang dengan bentuk rahang yang terkesan tajam.

Saya kira dia punya sedikit (entah berapa sedikit) darah Belanda. Tatapan matanya memberi kesan judes. Barangkali ia bukan pesolek yang terlalu pandai mematut-matut rias wajah, gaya rambut, dan model baju. Dan dalam beberapa hal, ia seperti perempuan jalang. Tetapi di luar itu semua, segala sesuatunya benar-benar sempurna: cantik, kaya, seksi, lulusan Utrecht. Mungkin tidak terlalu sempurna – tapi siapapun pasti sulit mencari kekurangannya ketika ia telanjang.

“Mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pasar bebas”, katanya bercerita sedikit tentang pekerjaannya sebagai program director di sebuah lembaga donor asing. Lalu berceloteh tentang banyak hal – dengan selipan bahasa Belanda yang tidak saya pahami di antara kalimat-kalimatnya. (Tapi siapa sih yang mempersoalkan isi obrolan seorang perempuan selama ia bicara dengan cara yang seksi?)

Dari situ perkenalan kami berlanjut ke minum kopi sepulang kerja di keesokan harinya sampai kemacetan di jalan-jalan Jakarta berkurang. Dan ini menjadi kebiasaan sampai akhirnya acara minum kopi di suatu sore yang bebas deadline berlanjut ke makan malam dan beberapa gelas Chardonnay.

“Seorang perempuan membuat saya mabuk dan saya bahkan tidak memiliki kesopanan sama sekali untuk mengatakan terimakasih.”
– W.C. Fields

Sampai pada satu malam yang riuh, -seminggu setelah saya meninggalkannya telanjang berselimut kain satin-, saya semakin pasti bahwa saya tengah membangun ikatan dengan seorang perempuan kosmopolitan – tipikal perempuan yang dewasa bersama pemujaan terhadap Victoria Beckam. Begitu sebuah pikiran yang melintas di kepala saya sambil mengamati kuku-kuku jari lentiknya (bercat merah menyala) merapikan rambut (berarsir warna emas yang samar) dengan gaya yang terkesan sembarangan.

Di tengah kencan kami, pendengaran saya sesaat terasa kosong. Hanya bibirnya terus bergerak mengeluarkan rentetan kata-kata bak mitraliur. Dia, -di tengah-tengah cerita tentang hiruk-pikuk kehidupannya-, baru saja mengatakan bahwa penghasilannya sekitar tiga kali lipat daripada saya.

Dia pasti bohong, pikir saya seraya diam-diam mulai berhitung – rumah di sebuah kompleks elit, mobil keluaran terbaru, caranya menghamburkan uang di tempat-tempat mahal……

“Jika Anda masih dapat menghitung uang Anda berarti Anda bukan jutawan.”
– J. Paul Getty

Awalnya semua berjalan baik. Yah, ini memang hubungan yang belum tentu berakhir di suatu tempat dimana sumpah abadi diikrarkan. Tetapi, lebih atau kurangnya, Noni adalah teman kencan yang oke. Mampu bicara tentang banyak hal: buku, film, atau masalah apapun – kecuali sepakbola. Dan seks juga tidak mengecewakan.

Yang kemudian mengganggu adalah kebiasaan Noni menghujani saya dengan berbagai perhatian kecil berupa hadiah-hadiah – ia selalu bisa mencari suatu alasan untuk dirayakan. Sungguh saya menyukai semua barang yang ia hadiahkan kepada saya. Yang mengganggu adalah karena ini kemudian menjadi kebiasaan. Noni seperti selalu tahu barang-barang apa saja yang saya impikan dan rencanakan untuk membeli. (Seperti ada yang memata-matai kebiasaan saya dengan uang). Dan ia merampok impian itu sebelum tabungan saya cukup untuk merealisasikannya sendiri.

Semakin parah ketika kebiasaan ini terus berkembang dan melahirkan kebiasaan baru. Kartu kreditnya selalu lebih mengilap dibanding kartu saya di atas meja restoran atau kafe. Mungkin tidak lama lagi di atas meja resepsionis hotel.

Similar Posts
Posted in Writings
Read more:
Dibutuhkan Satu Milyar Cinta Untuk Perdamaian

HARI INI ini saya menemukan sebuah website berjudul 1 Million Love Messages. Ini adalah sebuah blog berisi surat-surat cinta yang...

Close