splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Diving Gili Trawangan: Catatan Seorang Pemula

Posted By dny on February 14th, 2013

SERANGAN PANIK
Pengarahan lagi di kedalaman 5 meter. Kelihatannya memang tidak keren. Tapi itulah nasib seorang pemula. Dengan menggunakan isyarat, kami mempraktekkan lagi beberapa teknik yang telah dijelaskan dengan bahasa verbal di pantai tadi. Orang demi orang.
DIve0055
Tiba-tiba Frank, orang paling terakhir yang berhasil bergabung dengan kelompok ini, melakukan gerakan yang mengejutkan – meluncur dengan cepat ke permukaan. Belakangan saya tahu itu dia lakukan karena terserang panik – air laut masuk ke dalam maskernya dan ia gagal mengeluarkannya meskipun sudah beberapa kali mencoba. Seorang instruktur menyusul ke permukaan, lalu – tidak berapa lama kemudian – kembali tanpa Frank.

Tidak sempat berpikir tentang apa yang terjadi pada Frank. Saya sibuk dengan berbagai macam hal yang harus dilakukan hampir bersamaan – tetap bernapas lewat mulut, membuang air dari masker, mencoba melakukan equalizing, dan seterusnya.

Setelah pengarahan beberapa menit di dalam air, kami – secara berkelompok – dipandu menyusuri semacam lereng di dasar laut yang menurun – tidak terlalu curam. Turun semakin dalam, meter demi meter, diselingi ritual equalizing di setiap meter kedalaman yang ditempuh. Semakin dalam, saya mulai merasakan tekanan yang semakin kuat pada gendang telinga saya. Beberapa kali tidak mengalami hambatan untuk mengatasi tekanan itu dengan melakukan equalizing.

Namun, di kedalaman 9 meter, saya merasakan tekanan yang sangat menyakitkan pada gendang telinga – lebih menyakitkan dari sebelumnya. Melakukan equalizing tidak terlalu membantu. Saya panik. Kemudian lupa dengan semua hal yang saya pelajari – termasuk aturan untuk bernapas melalui mulut. Sial. Insting saya, diprovokasi oleh serangan panik, mendorong saya untuk menuju permukaan. Meluncur vertikal ke atas, namun saya merasa ada yang memegangi kaki saya. Semakin panik. Menendang-nendang secara membabi-buta. Pegangan tersebut mengendur. Tapi orang yang memegang kaki saya itu tahu-tahu sudah berada di depan saya dan memberikan isyarat agar saya tenang. Dan ia bertanya, lagi-lagi dengan isyarat tangan, “ada masalah apa?”. Saya menjawab isyarat itu dengan menunjuk telinga. Orang itu kembali mengisyaratkan agar saya tenang. Tetap bernapas seperti biasa. Lalu ia membimbing saya naik satu-dua meter ke atas. Ajaib. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang. Saya pun jadi lebih mudah untuk kembali tenang.

Orang yang membantu saya itu, instruktur Lombok Dive, sekali lagi melontarkan isyarat bertanya, apakah saya baik-baik saja? Setelah mendapat isyarat oke dari saya, ia mengajak untuk menyelam lebih dalam lagi. Baiklah. Sudah lebih dari separuh jalan untuk mencapai kedalaman maksimal yang boleh ditempuh seorang yang baru pertama kali menyelam (10-12 meter). Masa saya harus putar badan dan menyerah. Apa nanti kata dunia?

Tags: ,

Similar Posts
Posted in Traveling, Writings
Read more:
Meminjam Artikel Dari Guardian

DARI sebuah sumber di twitter, yang saya lupa link-nya, saya pernah membaca pernyataan bahwa masa depan media cetak bukan lagi...

Close