I Should Never Grown Up


SABTU kemarin aku menghadiri acara reuni dengan teman-teman SD. Rasanya seperti membuka lagi catatan ingatan dan membalik lagi halaman-halaman album foto kenangan. Mencoba mengenali wajah-wajah kecil yang polos di lembar-lembar foto yang menguning dan mencocokkannya dengan wajah-wajah dewasa yang bukannya tanpa dosa. Rasanya seperti mengalami perjalanan dengan mesin waktu minus kecepatan cahaya.

Seorang teman bahkan lupa ia duduk di kelas A atau B. Teman yang lain harus berkenalan lagi dengan teman yang dulu duduk satu meja dengannya. Heiii…bahkan aku gagal mengenali wajahku sendiri di foto-foto kenangan itu. Mungkin lebih mudah untuk mengingat guru-guru di sekolah dasar Katolik tempat kami menghabiskan enam tahun masa kecil kami. Dan guru-guru yang paling bengis adalah yang paling mudah diingat.

…mungkin kita harus berdoa seperti Peter Pan – I should never grown up..

Bertemu dengan teman-teman masa kecil yang kini telah menjadi orang-orang dewasa berusia di atas tigapuluhan membuat aku menimbang kembali sisi positif dari menjadi dewasa. Yang aku lihat adalah tumbuhnya rambut putih, kerut-kerut di wajah yang menanggung beban hidup, perut yang membuncit, dan pikiran yang……kami tidak sepolos dulu ketika prasangka dan cara berpikir orang dewasa belum lagi meracuni kami.

Apa untungnya menjadi dewasa selain menjadi orang yang berbeda? Apakah kita menjadi lebih pintar? Faktanya, pertambahan usia berjalan seiring dengan merosotnya kemampuan otak. Menjadi lebih bijak? Mungkin – tapi kita juga masih bisa berdebat soal itu. Menjadi lebih imajinatif? Pasti tidak. Faktanya, kita selalu diminta untuk meniru atau kembali menjadi anak kecil ketika berhadapan dengan masalah yang menuntut kemampuan imajinasi.

Jadi apa untungnya menjadi dewasa? Ahh…mungkin kita harus berdoa seperti Peter Pan – I should never grown up. 9ZNNENR5CXJU

2 thoughts on “I Should Never Grown Up

  1. Denny my brother, … itulah hidup….manakala manusia semakin menghabiskan sisa umur, di saat itulah semakin ditempa kemampuan mental dan fisiknya untuk lebih bisa menyadari bahwa hidup ini adalah ujian semata. Siapa yang bisa menjawab tantangan per tantangan (dengan sisa2 kemampuan fisik dan otak) di situlah dia mencapai jawaban yang diminta oleh ujian. Intinya, manusia tidak bisa lagi arogan dengan segala potensi dan pengalaman hidupnya, sebab itu semua hanya titipan yang akan dipertanggungjawabkan kembali kepada Yang Telah Memberikannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *