splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Integritas Para Pejuang

Posted By dny on November 17th, 2011

AWALNYA adalah kegalauan seorang karib. Nampaknya ia baru saja berkelana menjumpai kawan-kawan lama di masa bergerak. Itu cara dia menjaga diri agar tetap waras di tengah tugasnya sebagai staf yang sehari-hari membantu pekerjaan seseorang yang kini berada di ring satu kekuasaan (lagi-lagi juga seorang kawan lama di masa bergerak). “Aku sedang desersi”, katanya bila ditanya kenapa ia berada di kota yang dulu menjadi tempat para pemuda era 80-90an mencoba menuliskan jejaknya dalam sejarah Indonesia modern. Kegalauan karib saya itu adalah pertanyaan hipotetis tentang integritas para pejuang. Ini tentunya tidak lepas dari pengalaman personal karib saya itu dan apa-apa saja yang dilihatnya di lingkungan istana. Itu adalah tesis “apa yang terjadi?”. Sementara obrolan dengan kawan-kawan lamanya di masa bergerak memunculkan antitesis “apa yang seharusnya terjadi?”.

Ini adalah pertentangan ide yang terus-menerus mengemuka ketika sebuah revolusi dianggap selesai. Bila Anda setuju dengan Heraclitus yang percaya bahwa sejarah manusia dan masyarakat adalah perjalanan melintasi aliran sungai yang sama – panta rhei, jangan dulu berdebat soal apakah sebuah revolusi bisa selesai atau tidak akan pernah selesai. Walaupun tetap saja ini bukan pertanyaan sederhana tentang moral. Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pejuang ketika kekuasaan yang zalim berhasil ditumbangkan? Apakah ia tetap harus berjuang di luar sistem? Apakah ia sebaiknya melanjutkan perjuangannya di dalam sistem untuk menghabisi sisa-sisa rejim yang telah ditumbangkan? Apakah sebaiknya ia melupakan semuanya dan kembali menekuni hidupnya sebagai seorang soliter?

Dulu, di generasi pertama gerakan pemuda setelah merdeka, ada Soe Hok Gie yang menulis di buku hariannya tentang kemestian seorang pejuang untuk meniru integritas tujuh samurai dalam film karya Akira Kurosawa. Dalam film tersebut, setelah para petani dibebaskan dari teror para bandit, samurai yang tersisa diam-diam meninggalkan desa tersebut sebelum para petani sempat menyampaikan terimakasih mereka. Itu adalah satu pilihan yang romantis – meskipun Soe Hok Gie kelihatannya lupa bahwa dalam film tersebut salah satu samurai pejuang itu sempat kehilangan kesadaran moralnya dan tergoda menyetubuhi putri salah seorang petani yang dibelanya. Lepas dari setuju atau tidak, itu adalah satu pilihan yang – sekali lagi – romantis.

Yang sulit adalah ketika pilihannya tetap meneruskan perjuangan – di luar maupun di dalam sistem. Sulitnya? Yah, menakar kadar integritas dari masing-masing individu. Masa kita tidak boleh kaya? Kata seorang pejuang. Soeharto sudah jatuh, saatnya kita cari uang. Kata pejuang yang lain.

Lalu apa yang bisa menjadi takaran kesucian integritas seorang pejuang? Ideologi? Tapi bagaimana kalau, seperti kata seorang kawan, ideologi sudah menjadi fashion – hiasan? Mungkin praksis (merujuk pada perkataan seorang kawan yang saya dengar ceritanya dari karib yang saya sebut di atas): “Ketika kau melanjutkan perjuanganmu di dalam sistem, apa yang sudah kau perbuat untuk rakyat miskin?”. Tapi bagaimana kita bisa percaya pada suatu praksis yang berlandaskan pada ideologi yang sudah menjadi fashion?

Bingung? Apa lagi saya! Buat saya sih yang paling menyakitkan dan membuat saya apatis pada politik di negeri ini: 1). Belum ada klarifikasi dan keadilan bagi korban-korban politik, 2). Sisa-sisa Orde Baru dan antek-anteknya yang masih leluasa menikmati jarahannya selama 30 tahun lebih dan (sialnya) masih terus leluasa menjarah, 3). Para penumpang gelap dalam gerbong Reformasi 98. Gitu lho!

Tags: , , , ,

Similar Posts
Posted in Personal Journal
  • Willys

    kalo gitu teruslah berjuang, revolusi belum selesai

Read more:
Zen di Kantor

APA yang Anda lakukan ketika pekerjaan atau kehidupan pribadi Anda menjadi sumber stres yang konstan – menggempur Anda dengan berbagai...

Close