splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Jadi Penulis Jangan Lebay

Posted By dny on October 29th, 2010

SAMPAI sekarang saya masih menyimpan cita-cita yang belum kunjung terwujud – menjadi seorang penulis. Maksud saya di sini adalah penulis sebagai profesi utama, bukan sebuah sambilan atau pekerjaan yang saya lakukan untuk sebuah pesanan. Saya ingin menulis apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan alami – lalu membagikannya kepada orang banyak.

Singkatnya, saya ingin menulis dengan merdeka – bukan menulis menurut kebutuhan atau permintaan tempat saya bekerja.

Ini, setidaknya bagi saya, butuh keberanian besar. Ketakutan akan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup masih memaksa saya untuk membenamkan impian itu untuk sementara – entah sampai kapan. Padahal saya sangat ingin segera membebaskan diri saya dari ikatan dan aturan yang membatasi ruang kebebasan kreasi saya.

Sepuluh tahun lalu saya pernah bertemu dengan Bianti Djiwandono. Beliau bertanya tentang cita-cita saya. Ketika itu saya menjawab dengan penuh kepercayaan diri, “Saya ingin menjadi penulis.” Beliau kemudian mengutarakan respon yang semakin membulatkan tekat saya untuk menjalani pilihan saya tersebut. “Bangsa ini memang membutuhkan banyak orang yang menulis, terutama dari generasi mudanya,” kata beliau ketika itu.

Waktu itu saya baru saja menyelesaikan kuliah saya. Dan dengan idealisme yang menggebu-gebu saya menjalani kehidupan seperti seorang bohemian – tidak memiliki tempat tinggal, uang tidak pernah lebih – bahkan kurang – dari pemenuhan hidup selama sebulan, dan sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Harta saya hanya sekoper pakaian dan koleksi buku yang berserakan di tempat-tempat kos teman saya di Yogya – sementara saya lebih banyak di Semarang dan berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kehidupan saya jalani tanpa beban. Dan tidak terasa, selama dua tahun, saya menghasilkan tujuh judul buku.

Namun, itupun tidak saya tulis sendirian dan merupakan “pesanan” dari berbagai lembaga. Jadi saya tidak benar-benar menjalani hidup saya sebagai penulis yang merdeka.

Sekitar 1995-an saya sudah mulai memberanikan diri mengirimkan tulisan-tulisan saya ke beberapa media lokal dan nasional. Beberapa tulisan dan tinjauan buku yang saya kirim dimuat, tapi banyak juga yang tidak. Di akhir masa kuliah, saya menulis sebuah skripsi yang kemudian, atas saran seorang teman, diajukan kepada sebuah penerbit – dan diterbitkan. Itu adalah buku pertama saya. Setelah itu saya masih menulis lagi beberapa buku untuk kepentingan beberapa lembaga dana – seperti telah saya singgung di atas. Dan pada masa itulah saya bertemu dengan Bianti Djiwandono.

Sampai 6 tahun setelah lulus sekolah, saya belum pernah merasakan ruang kantor “beneran”.

Baru pada tahun 2002, karena alasan yang sangat personal (keluarga dan pacar), saya kembali ke Jakarta untuk memulai karier sebagai pekerja kantoran. Herannya, meskipun bidang pekerjaan saya masih terkait dengan tulis-menulis, justru mulai sejak itu saya seperti pelari maraton yang kehabisan nafas – sementara garis finish masih jauh sekali. Saya tidak bisa lagi menulis dengan – menggunakan istilah dari teman yang agak lebay – hati.

Saya jadi suka heran mendengar tentang orang-orang, tentu saja para penulis, yang bekerja di sebuah kantor di kawasan sibuk Thamrin-Sudirman-Kuningan, tapi masih juga sempat menghasilkan satu-dua buku setiap tahunnya. Dari mana mereka mendapatkan produktivitas seperti itu? Kenapa saya tidak bisa mendapatkan hal yang sama?

Untuk menghibur diri, saya sering bilang kepada diri saya sendiri: “Itu karena kamu adalah tipe manusia yang hanya kreatif bila kepepet.” Tiba saat, tibalah akal – kalau kata teman saya yang sedikit lebay tadi. Apa memang ada jenis orang-orang seperti itu – yang idealis karena perutnya lapar dan karena perutnya lapar terdesak untuk kreatif agar bisa tetap makan seadanya?

Lantas kalau bangsa ini membutuhkan banyak penulis untuk mencatat setiap segi kehidupannya, agar bisa menjadi dokumentasi yang mendorongnya ke medan kemajuan, apa jadinya bila generasi mudanya seperti saya – hanya kreatif ketika lapar?

Mau jadi penulis macam apa saya ini?!

Tags: ,

Similar Posts
Posted in Personal Journal
Read more:
6 Teknik Dasar Menulis Webtext

WEB adalah medium yang berbeda dengan media cetak ataupun elektronik lain. Web berbeda dengan koran, majalah, radio, maupun televisi. Jadi...

Close