splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Jalan-jalan ke Bogor (10-11 September 2011)

Posted By dny on September 15th, 2011

Semahe-mahe

KARENA sudah banyak teman yang protes sehubungan dengan tulisan-tulisan yang terlalu serius di blog ini, sekarang saya mau coba berbagi hal-hal yang tidak serius. Ini tentang kunjungan terakhir saya ke Bogor pada 10-11 September kemarin.

10 SEPTEMBER
Gereja Katedral Santa Perawan Maria, Bogor
Tujuan utama dari perjalanan ini sebenarnya untuk memenuhi undangan pernikahan dari rekan kerja istri saya. Acara pernikahannya diadakan di Gereja Kathedral Bogor yang punya nama paroki resmi Santa Perawan Maria. Gereja yang lokasinya di Jalan Kapten Muslihat ini menarik buat saya. Arsitekturnya, terutama di bagian dalam gereja, terkesan kuno. Langit-langitnya berbentuk kubah yang tinggi. Saya tidak mau bercerita banyak soal gereja ini maupun keunikan arsitekturnya karena saya tidak mengerti soal tersebut. Yang jelas, ini adalah salah satu gereja tertua di Indonesia. Sejarahnya membentang dari tahun 1881. Bila ingin tahu lebih lanjut soal gereja ini, bisa dimulai dari sini.

Hotel Royal Bogor
Selesai acara resepsi, kami langsung cari hotel. Sebetulnya sudah reservasi sejak seminggu lalu di Hotel Royal Bogor. Tapi berhubung ingin lihat dan cek alternatif yang lebih murah, kami pergi dulu ke Hotel Papa Ho dan Hotel Amaris Bogor. Tapi setelah melihat tampilan luar Hotel Papa Ho (kok seperti ruko yah?!) dan mendengar berita soal Hotel Amaris Bogor (sebenarnya hotel ini baru dibuka, tapi kabarnya ada kecelakaan kerja Hotel ini ketika sedang dibangun) akhirnya pilihan kembali jatuh ke Hotel Royal Bogor.

Hotel ini terletak di Jalan Ir. Haji Juanda No. 16, Bogor. Kebetulan sedang ada harga promosi. Jadi untuk kamar yang seharusnya berharga sekitar Rp. 900 ribu semalam, saya cukup membayar sekitar Rp 500 ribu. Saya kurang tahu juga harga promosi tersebut berlaku sampai kapan, soalnya istri saya yang mengurus reservasi. Saya mah tinggal santai – paling cuma berat buka dompet saja. Hotel ini lumayanlah (kami juga tidak melakukan pemesanan room service – jadi tidak bisa beri penilaian), lokasinya persis di depan Kebon Raya Bogor.

Gumati Cafe
Berhubung makan siang sudah dilewatkan di resepsi pernikahan rekan kerja istri saya, urusan makan berikutnya tinggal pada waktu malam. Semula kami pergi ke Restoran Riung Gili-gili yang direkomendasikan oleh Wanda Leopolda. Sialnya, malam itu restoran ini tidak menerima tamu karena sudah dibooking untuk resepsi pernikahan. Dan karena sudah lapar, lagipula sudah cukup malam, akhirnya kami pergi ke Gumati Cafe, di Jalan Paledang, tidak jauh dari Hotel Royal.

Kafe (yang menurut saya lebih tepat disebut restoran ini) sudah beroperasi cukup lama – sejak 1999. Jadi, sepertinya, sudah mulai redup. Sekarang yang dijual tinggal suasana, interior, dan pemandangan kota Bogor (yang kalau malam sih cuma kelihatan lampu-lampu saja, selebihnya gelap). Saya pesan nasi jambal di sini. Rasanya? Maaf, biasa saja – kalau tidak mau bilang tidak enak. Kalau cari suasana, bolehlah ke mari. Tapi kalau cari makanan enak – sebaiknya pilih tempat lain.

11 SEPTEMBER
Jalan Suryakencana: Dari Pangsit Penganten sampai Bir Kocok
Setelah tidur puas (bangun jam 12 siang!), perut lapar. Langsung mandi, cari makan. Ke Jalan Suryakencana yang katanya salah satu pusat kuliner di Bogor. Makanan pertama yang disikat adalah Pangsit Penganten (saya), Ngohiang (satu porsi berdua – saya dan istri), dan Mie Kangkung (istri) di Ngohiang Resto. Ikut nyicipin Mie Kangkung sih enak. Kuahnya mantap. Ngohiang – ternyata saya tidak terlalu suka karena rasanya bumbunya manis. Pangsit Penganten..hhhmmm….mirip-mirip soto mie tapi lebih tawar – saya sih merasa sudah memesan menu yang salah. Alhasil perut sudah mulai kenyang, tapi lidah belum terpuaskan.

Pangsit Penganten


Nah, berjalan sepanjang Jalan Suryakencana, beli buah, beli sate babi, beli Soto Kuning, dan…sampai lupa apa lagi yang dibeli istri. Semua dibungkus untuk dimakan di Jakarta. Saya sendiri cukup puas dengan Bir Kocok di Jalan Roda (depan Alfamart).

Rasanya mirip-mirip dengan Bir Pletok, tapi rasa jahenya lebih tajam. Segar sekali di tenggorokan.

Jalan Siliwangi: Asinan Bogor Gedung Dalam
Selesai belanja kuliner di Jalan Suryakencana, naik mobil ke Jalan Siliwangi untuk beli Asinan Bogor Gedung Dalam. Lagi-lagi dibungkus buat dibawa ke Jakarta. Saya sih tidak suka asinan jadi tidak terlalu antusias, cuma terkejut lihat spanduk menu di restoran sebelah toko Asinan Bogor Gedung Dalam ini – ada yang jual daging monyet bakar! (WTF!)

Jalan Raya Pajajaran: Roti Unyil dan Sawo Duren
Target berikutnya adalah Roti Unyil Venus yang terkenal itu. Baru tahu sekarang tempatnya pindah ke Jalan Raya Pajajaran. Biasalah. Akhir pekan antriannya seperti antrian beli sembako tahun 66. Sementara istri antri, saya nongkrong di depan. Ada penjual buah-buahan. Lihat buah yang tidak pernah saya lihat sebelumnya dan bertanya ke abang penjualnya. Namanya Sawo Duren. Kata penjualnya sih ini termasuk buah langka. Entahlah kalau itu cuma kecap jualan si abang. Dan, kata si penjual lagi, buah ini kabarnya bisa bikin lelaki makin “greeng!” (tahu kan apa yang saya maksud?). Akhirnya beli juga satu kilo.

Save the best for last: Restoran Riung Gili-gili
Setelah beres semuanya, target terakhir sebelum pulang ke Jakarta adalah restoran yang kemarin malam gagal dikunjungi – Restoran Riung Gili-gili. Letaknya masih di Jalan Raya Pajajaran juga.

Nasi Gurih


Nah, yang ini baru top. Saya pesan Nasi Gurih (nasi tanak ala Sunda, lalapan segar, tempe, bakwan jagung, tahu, krecek oncom, emping melinjo, sambal terasi, ikan asin jambal) dan Semahe-mahe (lemon, ginger, lemon grass, honey). Nasi Gurihnya top! Puas! Kekurangannya cuma satu: ikan asin jambalnya sih kurang terasa kalau menurut saya.

Tags: , , ,

Similar Posts
Read more:
Traveling Thailand: Nonton Panda di Chiang Mai Zoo

ENTAH bagaimana caranya saya terbujuk untuk mengunjungi Chiang Mai Zoo. Hanya untuk nonton Panda! Tapi oke-lah. Lagipula kebun binatang dan...

Close