Kencan yang Membosankan

Terkadang, kebohongan adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Anda.

SAYA berjalan menyusuri labirin mal terbaru di Jakarta bersama Rani – perempuan yang saya kenal lewat seorang kawan yang mengenalnya melalui jalur percakapan di internet. Sore tadi saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengannya ketimbang memenuhi undangan sebuah klub yang saya tahu berisi orang-orang yang membosankan. Sampai belakangan saya menyesal karena jatuh ke sebuah kencan yang ternyata lebih membosankan dari itu.

“Menjadi dewasa berarti menjadi kesepian.”
Thoughts of a biologist, Jean Rostand-

Rani berusia 31 tahun. Staf senior di sebuah perusahaan sekuritas ternama. 168/54/32A. Baru saja putus hubungan dengan pacarnya yang ke-4. Mengaku sedang kesepian dan depresi karena hubungan yang tidak pernah bisa berjalan mulus dalam waktu lama.

“Dalam keadaan seperti ini biasanya aku pergi ke mal – shopping therapy,” katanya ketika kami berjalan pelan sambil sekali-sekali berhenti di depan etalase sebuah toko.

“Pernahkah kamu masuk ke tengah keramaian mal, melihat banyak orang, lelaki-perempuan, begitu bising, tetapi kamu merasa kesepian, hampa,” tanya Rani sambil mencomot sepotong spicy fungi
yang disodorkan seorang pramuniaga ketika kami lewat di depan sebuah gerai fastfood.

Saya tidak tahu ada berapa banyak perempuan seperti Rani. Yang jelas sejak tadi kami sudah berulangkali berpapasan dengan perempuan-perempuan karir dalam berbagai postur, gaya rambut, dan model pakaian. Sendirian dan berjalan dengan langkah lebar. Mereka memiliki karir bagus, cantik, cukup uang untuk dihamburkan. Sebagian mereka pasti kesepian dan penuh keputusasaan seperti Rani.

“Apa itu bukan sekedar perasaan kosong karena kamu baru saja kehilangan pacar?” tanya saya.

“Mungkin,” jawabnya.

“Jadi mengapa harus khawatir soal itu? Ini hanya masalah waktu dan semuanya akan segera berubah, kan?!”

“Sungguh enak pergi ke terapis. Saya menghabiskan satu jam hanya untuk bicara tentang diri saya. Seperti menjadi pria dalam sebuah kencan.”
-Caroline Rhea-

Sampai akhirnya kami terdampar di salah satu kursi sebuah lounge. Musik akustik mengalun. Piano. Dan seorang perempuan menyanyikan lagu Unbreak My Heart dengan suara yang dimirip-miripkan dengan Toni Braxton.

“Aku suka lagu ini,” kata Rani.

“Mengapa tidak mencari lelaki lain?” tanya saya.

“Rasanya aku selalu jatuh ke pelukan seorang bajingan,” jawabnya.

“Mungkin semua lelaki baik itu sudah menikah,” katanya lagi.

Perempuan! Selalu membesar-besarkan hal kecil dengan cara yang paling melankolis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *