splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Ketika Ketelanjangan Itu Subversif

Posted By dny on August 11th, 2010

MASA remaja saya sangat membosankan, dipenuhi dengan moralitas yang dibangun di atas slogan-slogan, kebohongan, dan ketakutan. Sebaliknya pornografi memberikan janji-janji yang fantastis. Itu adalah tawaran kebebasan imajinasi yang sungguh menggoda saat puritanisme menjejali ruang-ruang moralitas saya dengan segala macam tabu dan kemunafikan yang mengada-ada.

Perkenalan pertama dengan erotisme terjadi di usia 14 tahun lewat buku-buku stensilan Anny Arrow, majalah porno dan film-film biru yang dicuri teman-teman saya dari bawah kasur abang-abang mereka. Luar biasa. Perempuan-perempuan seksi dengan pakaian minim yang membeku dalam pose-pose menantang itu demikian menarik minat saya – menjadi inspirasi seks solo saya di kamar mandi – memperkenalkan kenikmatan seksual pertama lewat jari-jari tangan saya. Begitulah keingintahuan pubertas saya terpuaskan.

Saya ingat bagaimana derasnya adrenalin mengalir ketika lewat di depan orangtua saya di ruang tamu dengan membawa tiga jilid serial Nick Carter terbaru tersembunyi di balik celana jeans saya. Jantung saya berdegup kencang. Tetapi di situlah kesenangannya – melakukan perbuatan terlarang dan lolos dari hukuman. Saya melintas di depan mereka dengan cepat, seakan tergesa ingin menyelesaikan pelajaran saya yang tertunda di kamar, sambil menebak-nebak dengan tidak sabar: aksi ranjang seperti apa lagi yang akan dilakukan si Nick dalam edisi ini.

Saat ini kita sedang menyaksikan sebuah upaya mengatasnamakan moralitas yang demikian menggebu-gebu untuk menistakan seksualitas manusia dan menempatkannya sebagai hal yang terlarang.

Tahun 90-an adalah revolusi pertukaran barang-barang pornografi. Transaksi dan pertukaran majalah maupun video porno adalah metode usang yang tidak lagi menarik dan terlalu berisiko. Ini jamannya erotisme dikomunikasikan dalam bentuk data digital berukuran megabyte – dalam bentuk beku foto digital maupun real-time show melalui jendela-jendela webcam.

Hampir di setiap rumah, Anda bisa melakukan koneksi instan ke dunia erotis jauh lebih mudah daripada yang bisa Anda bayangkan di masa muda Anda yang hanya mengenal erotika dalam bentuk barang cetakan.

Internet bisa menjadi jalan bebas hambatan bagi lalu-lintas birahi atau pertukaran informasi positif. Semuanya tergantung pada pengguna. Tentu pornografi bisa meracuni. Tetapi saya tetap percaya pada kemampuan akal budi manusia untuk melawan racun tersebut dan membiarkannya berhenti sebagai imajinasi. Pada akhirnya, baik dan buruknya, kembali pada pilihan yang Anda ambil.

Sejak Anjasmara dan Isabel Yahya digugat karena berpose telanjang untuk sebuah karya seni, ratusan pedagang majalah diseret ke kantor polisi ketika ramai kasus majalah Playboy, Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi, RPM Konten, beredarnya video pribadi Ariel-Luna-Cut Tari dan belakangan upaya Menkominfo menyensor internet, kelompok puritan yang provokatif terus mencoba membuat banyak orang percaya bahwa erotisme itu subversif.

Singkatnya, saat ini kita sedang menyaksikan sebuah upaya mengatasnamakan moralitas yang demikian menggebu-gebu untuk menistakan seksualitas manusia dan menempatkannya sebagai hal yang terlarang. Hak individu untuk mengeksplorasi segala daya seksualitasnya demi penampilan, kebahagiaan hidup, dan keseimbangan jiwa sedang dibatasi habis-habisan.

Tags: , , ,

Similar Posts
Read more:
Konvergensi Media: Siapa Yang Lebih Dulu Harus Berubah?

BEBERAPA waktu lalu, sejawat saya dari sebuah majalah diundang untuk berbicara di depan sebuah kelas di Universitas Indonesia. Ia diminta...

Close