splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Konvergensi Media: Siapa Yang Lebih Dulu Harus Berubah?

Posted By dny on May 30th, 2011

BEBERAPA waktu lalu, sejawat saya dari sebuah majalah diundang untuk berbicara di depan sebuah kelas di Universitas Indonesia. Ia diminta untuk bicara soal jurnalisme online. Terkait dengan itu, ia bertanya kepada saya tentang apa saja yang keterampilan yang harus dipelajari atau mesti dimiliki oleh seorang jurnalis di era konvergensi media seperti sekarang ini.

Dalam tulisan ini saya tidak akan memberikan jawaban atas pertanyaan sejawat saya di atas. Saya hanya ingin bercerita tentang gegar budaya di kalangan jurnalis tradisional – mereka yang terbiasa bekerja menggunakan satu media, dalam hal ini media cetak.

Dalam dua tahun terakhir, saya menjadi semacam “mentor” bagi beberapa media cetak yang sedang berupaya melakukan konvergensi. Maksudnya, tanpa meninggalkan medium tradisionalnya (cetak), media-media ini ingin membuka saluran baru di medium online dan digital. Ini adalah antisipasi terhadap perkembangan pola konsumsi informasi yang mulai bergeser dalam lima tahun belakangan ini di Indonesia. Lebih khusus lagi, ini adalah proyek besar untuk menyambut kedatangan generasi baru dari pembaca potensialnya – mereka yang sering disebut-sebut dalam literatur ilmu komunikasi terkini sebagai generasi digital atau net-gen atau digital native.

Dan seperti bisa diduga sejak awal, para produsen media yang konvensional ini – para jurnalis dan editornya – adalah orang-orang pertama yang mengalami kegegaran budaya. Sebagian di antara mereka serta-merta langsung menolak keharusan untuk berubah sesuai dengan pergeseran medium yang tengah berlangsung, bahkan menolak untuk mengakui bahwa informasi telah bergerak dengan cara yang berbeda. Sebagian lagi setengah menolak – mengakui bahwa sedang terjadi perubahan besar yang akan mempengaruhi pekerjaan mereka, namun enggan untuk mengikuti arus perubahan tersebut. Beberapa di antara mereka – mungkin hanya sebagian kecilnya saja – yang mengakui adanya gelombang besar perubahan itu dan, akhirnya, bersedia untuk lebur bersamanya.

Ketakutan akan semakin kompleksnya pekerjaan yang ditangani (ketambahan pekerjaan) adalah alasan utama. Turunannya tentu saja bisa bermacam-macam – mulai dari semakin banyaknya waktu yang harus dialokasikan untuk menyelesaikan pekerjaan, semakin lebarnya kesenjangan antara kuantitas dan kualitas pekerjaan yang dituntut oleh perusahaan dengan penghargaan yang diterima pekerja media dari perusahaan, sampai tidak memadainya fasilitas penunjang yang disediakan oleh perusahaan.

Dalam konteks kegegaran budaya ini, sebenarnya alasan untuk menolak untuk berubah bisa dimaklumi. Kemalasan untuk melakukan perubahan metode kerja di kalangan pekerja media konvesional tidak bisa dengan serta-merta dihakimi sebagai kegagapan terhadap perkembangan teknologi. Faktanya, sebagian besar dari para pekerja media tersebut saya temui menggenggam dan menggunakan gadget-gadget terbaru. Saya rasa perusahaan media tidak boleh dengan gegabah memandang persoalan ini sekedar sebagai masalah “karyawan-yang-malas-berubah-dan-cenderung-menghindari-pekerjaan” ala pandangan managemen rasional-nya Frederick Winslow Taylor.

Perubahan yang tengah berlangsung ini memang harus dijawab dengan cara yang lebih fundamental. Bukan sekedar mengubah cara berpikir dan perilaku para jurnalis dan editor dalam melakukan pekerjaan mereka, tetapi juga mengubah secara keseluruhan sistem managemen produksi di dalam perusahaan media itu sendiri.

Similar Posts
Read more:
Engagement: Hadiah Kecil Dari @Harvardbiz

[View the story "Engagement: Hadiah Kecil Dari @Harvardbiz" on Storify]

Close