Masa Kecil: Tanjung Priok 1984
Posted By dny on August 2nd, 2010
NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus Anda miliki – pendeknya, apa pun yang membentuk identitas diri Anda sebagai manusia urban. Profesiku sekarang adalah hal paling melenceng dalam hidupku bila melihat tahun-tahun di belakang yang telah aku lalui.
Aku lahir di salah satu tahun dalam dasawarsa pertama pemerintahan Orde Baru. Di tahun ketika kekuasaan itu mulai menuai kritik. Gerakan anti-korupsi muncul untuk pertamakalinya menyusul rencana ibu negara, yang sudah almarhum sebelas tahun lalu, membangun Indonesia mini di Jakarta bagian timur. Gerakan yang sama kemudian bereaksi lebih keras terhadap Orde Baru dengan menyerukan penolakan untuk memilih pada pemilihan umum pertama di masa pemerintahan Soeharto. Tahun-tahun pertama kehidupanku seperti menjadi ramalan bahwa aku akan melewati hanya sedikit menikmati tahun-tahun tenang di masa depan, baik dalam kehidupanku pribadi maupun dalam hubunganku dengan dunia luar.
Peristiwa kumaksud, yang menjadi seperti ramalan masa depanku itu, adalah meletusnya huru-hara di Lapangan Banteng, huru-hara pertama yang terjadi sementara kekuasaan Soeharto masih begitu muda dan kokoh. Ribuan massa mengamuk menolak penetrasi modal asing. Puluhan mobil dibakar. Entah berapa banyak korban.
Namun, kisah perseteruan dua ekor gajah tersebut hilang bersama angin sejarah.
Orang bilang huru-hara itu sebenarnya bukan peristiwa penting. Peristiwa penting yang sebenarnya adalah perselisihan antara dua ekor gajah di istana. Perselisihan, yang dengan bisik-bisik, dikatakan sebagai penyebab kebakaran hutan yang memanggang para pelanduk. Ini adalah sejarah kedua yang terus tinggal di tempat gelap, tak tersingkap, sampai sekarang. Beberapa intelektual dan pemimpin mahasiswa memang dipenjara dengan tuduhan menjadi dalang huru-hara. Namun, kisah perseteruan dua ekor gajah tersebut hilang bersama angin sejarah.
Tags: featured, kenangan masa kecil, komite anti korupsi, masa kecil, peristiwa malari, peristiwa tanjung priok 1984, tanjung priok 1984