splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Masa Kecil: Tanjung Priok 1984

Posted By dny on August 2nd, 2010

Aku tahu dari nada bicaranya yang sudah sangat kukenal bahwa itu adalah perintah yang tidak boleh ditawar. Maka aku masuk ke dalam kamarku dan mulai membaca serial Pendekar Super Sakti yang kusabot dari lemari ayah. Sepanjang hari tersisa itu aku hanya membaca dan membaca sampai akhirnya tertidur.

Aku diam, mencoba menggapai kesadaranku yang baru terkumpul setengah. Letusan lagi. Kemudian rentetan letusan.

Aku terbangun lewat tengah malam karena suara letusan di kejauhan. Aku diam, mencoba menggapai kesadaranku yang baru terkumpul setengah. Letusan lagi. Kemudian rentetan letusan. Siapa pula yang menyalakan petasan di saat hari menjelang pagi begini. Ini bukan bulan puasa. Jadi rentetan letusan petasan bukanlah hal yang lazim.

Sekitar 30 menit kemudian, kesadaranku semakin penuh karena suara derap kaki-kaki yang berlari di jalan depan rumahku. Aku meloncat bangun dari tempat tidur. Kamar orangtuaku tertutup rapat. Seluruh rumahku gelap. Aku tidak berani menyalakan lampu. Jadi aku meraba-raba dalam gelap menuju jendela dan mengintip lewat gorden. Aku lihat orang-orang berlarian dengan panik. Arah mereka berlari dari kantor polisi.

Akhirnya suasana pagi kembali sepi. Entah apa yang mendorongku untuk pergi ke belakang rumah dan naik ke atas atap. Di kejauhan terlihat langit memerah oleh cahaya api. Kelihatannya warna merah menyala itu berasal dari daerah Koja, beberapa ratus meter dari sekolahku. Ini membuatku semakin tidak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terlalu banyak tanda dan keanehan yang terjadi dalam satu hari ini. Akhirnya aku pun kembali melanjutkan tidurku yang terganggu oleh peristiwa besar yang belum juga bisa aku pahami itu.

Pagi-pagi di meja makan ayah mengumumkan bahwa kami, aku dan adikku, tidak perlu ke sekolah hari ini. Aku hanya diam dan, sambil menahan kantuk, menikmati nasi goreng yang disiapkan ibu. Sedangkan adikku berteriak kegirangan. Namun segera keriaannya pupus mendengar pengumuman berikutnya dari ayah bahwa kami tidak boleh keluar rumah hari itu. Adikku heran kenapa kami dihukum tanpa berbuat salah. Sedangkan aku jadi sadar bahwa ini pasti ada hubungannya dengan segala keanehan yang terjadi kemarin sampai subuh tadi.

Sampai beberapa tahun kemudian aku mendengar kembali sepotong kisah tentang kejadian besar di dekat tempat tinggalku itu, tentang mayat-mayat yang dibakar di pembakaran mayat di Cilincing dan dihilangkan.

Kami baru boleh bermain di luar rumah setelah beberapa anak seusai kami mulai terlihat berkeliaran di sekeliling perumahan. Jadi ayah tidak punya alasan untuk menahan kami di dalam rumah. Kami diperkenankan untuk keluar rumah dengan catatan tidak boleh pergi terlalu jauh, begitu juga anak-anak lain.

Tapi rupanya kurungan yang kami alami juga dialami oleh anak-anak lain. Jadi aku dan teman-teman masa kecilku hanya duduk-duduk bergerombol di pinggir jalan sambil membicarakan keanehan-keanehan yang terjadi sepanjang hari kemarin. Seorang temanku, yang paling tua di antara kami, Ijul, bercerita tentang toko-toko milik orang Cina di Koja yang dijarah dan dibakar. Icon, yang bapaknya sudah sekian bulan berada di tengah laut, bercerita tentang gosip yang dicuri dengarnya dari pembicaraan para ibu tentang truk-truk militer yang mondar-mandir mengangkut manusia – entah mati, entah hidup. Temanku yang lain, setahun lebih muda dariku, Zainal, bilang bahwa ayahnya belum pulang ke rumah sejak kemarin. Zainal juga tidak tahu apa yang sedang berlangsung dan kemana ayahnya pergi. Ibunya tutup mulut. Dan kami kembali tenggelam dalam permainan masa kecil kami, membiarkan keanehan-keanehan itu menjadi urusan orang dewasa.

Dua minggu berjalan tenang sampai ayah Zainal kembali ke rumah dengan terpincang-pincang, membuat gempar lingkungan tempat tinggalku. Kami tidak tahu persis kapan ia kembali dan diantar oleh siapa, Tongkat penyanggah yang bersandar di bahu kanannya menyita keingintahuan kami. Kata orang, ayah Zainal terkena tembakan pada subuh yang aneh itu. Entah bagaimana ia bisa selamat dari kekacauan itu. Tapi, kata orang-orang, ayah Zainal beruntung tidak ikut dibawa oleh truk militer yang mondar-mandir subuh itu.

Aku tidak tahu keberuntungan seperti apa yang dimaksud orang-orang itu. Sampai beberapa tahun kemudian aku mendengar kembali sepotong kisah tentang kejadian besar di dekat tempat tinggalku itu, tentang mayat-mayat yang dibakar di pembakaran mayat di Cilincing dan dihilangkan. Sampai sekarang kisah itu belum terungkap sepenuhnya.

Tags: , , , , , ,

Similar Posts
Posted in Personal Journal
  • Vinettiavivi

    gileeeeee..merindiiing gw bacaanyaaaa…inget masa itu..inget zaman ituuuuu… :'(

  • Lucunya, banyak upaya menuntut keadilan buat para korban dari massa demonstran. Tapi tidak ada satu pun upaya menuntut keadilan buat para korban yang tokonya dijarah dan dibakar oleh massa. 🙁

  • bije mujiatma

    hehehe tiap jaman punya keadilan sendiri2 ya?

  • Rudi

    kalo yg ttg mayat-mayat yang dibakar di pembakaran mayat di Cilincing sy baru tau nih, thx boss tulisannya! salam kenal.

  • Denny Hariandja

     Salam kenal juga. Soal itu mayat-mayat itu juga sebenarnya kabar burung dari masa kecil. Tidak pernah ada konfirmasi tentang versi sejarah mana yang benar.

Read more:
Main Api

Bila Anda menebar angin, bersiaplah menuai badai. SAYA kangen Noni. Saya tidak menerima kabar apapun darinya sejak pengaturan temporary break...

Close