splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Menulis Suara

Posted By dny on October 20th, 2010

SAAT membaca tulisan kacau ini, Anda pasti tengah dikelilingi oleh suara. Ada yang lirih, ada yang gaduh. Ada yang jauh, ada yang dekat. Ada yang menindih, ada yang ditindih. Yang kuat mendominasi, yang sayup mengalah jadi latarbelakang. Suara derit bangku ketika Anda mengubah posisi duduk. Dengung CPU, laron yang menabrak-nabrak neon. Desah nafas seseorang di telinga Anda. Bisikan angin yang menyelinap di sela-sela kaca nako. Gemerisik daun. Denging nyamuk. Nyanyian jangkrik. Deru kendaraan yang lewat di depan rumah. Suara-suara itu adalah rima dan irama dunia di luar Anda – fenomena yang, bila dalam bahasa gambar dan suara, Anda tangkap lewat bentuk suara latar. (Anda yang duduk di depan layar komputer adalah pemeran utama dalam lakon ini).

Suara membangkitkan kenangan dan emosi.

Bayangkan sepotong adegan – seorang pria tua mencari cinta lamanya di kompleks pelacuran. Adegan berlangsung pada malam hari, tapi belum menjelang subuh. Jadi kompleks pelacuran itu masih riuh dengan suara-suara aktivitas penghuninya. Apa jadinya dengan adegan tersebut bila pria tua itu berjalan dalam hening – tanpa latar belakang suara makian, ucapan kotor, irama dangdut, pertengkaran, dan sebagainya? Kecuali Anda sedang membuat film dan menggubah adegan tersebut dalam gerak lambat dan narasi sebagai latarbelakang, maka keheningan itu membuat kisah perjalanan pria tua itu mencari cinta lamanya di kompleks pelacuran menjadi kehilangan efek dramanya. (Dan itulah yang saya lakukan ketika mendengarkan pidato SBY di televisi – menekan tombol mute untuk menghilangkan efek dramanya).

Mendengarkan suara-suara di sekitar kita adalah latihan penting dan sangat berguna ketika nantinya kita akan menuliskan konteks bagi adegan-adegan di tulisan kita (katakanlah cerpen atau novel) – memberinya latarbelakang, mengaitkan situasi sekarang dengan masa lalu atau masa depan tanpa harus kehilangan pijakan pada kekinian, dan memberinya kekuatan untuk mengingat, menyentil syaraf emosi yang tepat, menuntun imajinasi orang yang membaca adegan tersebut. Suara membangkitkan kenangan dan emosi.

Tags:

Similar Posts
Posted in Personal Journal
Read more:
Nargis dan Junta Militer

Topan tropis Nargis menyerbu Myanmar pada 3 Mei lalu. Sampai Selasa kemarin (6/5) korban jiwa mencapai 22.000 orang dan kemungkinan...

Close