Metafora Hidup Nan Muram

MATA yang tak mau juga terpejam tadi malam nyalang jatuh pada sebuah buku yang terselip mengganjal lemari. il Postino karya Antonio Skarmeta. Entah bagaimana novel itu bisa berada dalam posisi yang ganjil. Mungkin jatuh, dari tumpukan buku yang belum sempat saya rapihkan sejak pindah rumah empat tahun lalu, ketika adik saya yang ceroboh menutup pintu lemari dengan sembarang. Novel ini adalah pemberian seorang teman – orang yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Akhirnya melek sepanjang malam karena tergoda membaca ulang novel itu.

Beberapa hal langsung menggugat saya di halaman pengantar dari editor. Di situ dikutip frasa optimisme Pablo Neruda, tokoh dalam novel ini, yang memilih berpihak kepada “orang-orang yang tidak belajar membaca dan bahkan tidak membaca karya kita, tidak pernah menulis, apalagi menulis untuk kita.” Kutipan lain, kali ini mengutip Antonio Skarmeta, mempertegas gugatan itu: “…karakteristik pekerjaan saya adalah kehendak untuk berkomunikasi….untuk menghubungkan tradisi dari kebudayaan besar dengan keseharian orang-orang.”

Bagai sekuntum bunga pada wanginya, aku terikat pada kenangan samar tentangmu.

Membaca lagi kata-kata yang bergelora di novel itu membuat saya sedih tanpa alasan yang jelas. Menghitung lagi kehidupan saya dengan kemuraman yang berbulan-bulan membuat saya insomnia.

Sebelum menutup buku, saya kembali ke halaman terdepan dan membaca sekelumit kalimat yang enggan saya lepas hingga akhir:

“Bagai sekuntum bunga pada wanginya, aku terikat pada kenangan samar tentangmu. Aku hidup dengan perih yang mirip luka. Jika kau sentuh aku, kau akan merusakku hingga mustahil diperbaiki.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *