splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Mimpi Tentang Ruang Yang Adil

Posted By dny on March 20th, 2011

DI salah satu bidang kecil dari sebuah rumah susun di kawasan Kebon Kacang, lewat jendela, seorang ibu menatap Hotel Hyatt yang menjulang pongah menggapai langit di kejauhan. Barangkali pada saat yang bersamaan seseorang di salah satu kamar di hotel tersebut, lewat jendela, menatap rumah susun di kawasan Kebon Kacang itu. Pikiran-pikiran apa saja yang melintas di kepala mereka yang menatap dunia di seberang dunianya masing-masing itu?

Seorang profesor, rektor sebuah universitas ternama di negeri ini, percaya bahwa ruang membentuk manusia berikut segala bentuk berpikirnya. Sialnya, rata-rata kota di negeri ini berkembang (baca: dibangun) tanpa mengindahkan etika dan estetika. Atau paling banter hanya memperhatikan segi estetika, namun mengabaikan etika. Estetikanya pun merupakan bentuk citarasa keindahan yang bias kelas, yaitu citarasa keindahan milik kelas masyarakat yang mapan. Sebagai satu contoh, perkampungan-perkampungan warga yang bila dilihat dari kacamata real-estate yang serba teratur barangkali terlihat sebagai kotak-kotak kubus yang tidak indah dan menjengkelkan mata. Jalan-jalan sempit berkelok dan dipenuhi oleh anak-anak yang bermain memang bukan tempat yang nyaman dan aman bagi mobil-mobil licin untuk melintas. Namun bagi orang-orang di dalamnya, jalan-jalan berkelok itu adalah wilayah yang paling aman dan akrab dengan keseharian. Memberikan keadilan yang tidak dapat diberikan oleh jalan tol atau sarana dan prasarana publik lain yang diskriminatif.

Dalam kota yang dibangun dengan citarasa demikian, keindahan hanyalah milik warganya yang berekonomi mapan. Sedangkan bagi warganya yang miskin, estetika kota adalah momok yang setiap saat mengejar dan berusaha mengusir mereka ke luar kota. Warga-warga di perkampungan rakyat adalah sekelompok orang yang terus-menerus gelisah di bawah teror master-plan tata ruang kota yang setiap saat bisa dibeli dan dirubah sesuka hati orang yang berduit. Banyak sudah bukti-bukti betapa secara sepihak orang miskin perkotaan dianggap tidak mampu mengatur ruang hidupnya sehingga perlu “ditertibkan”. Barangkali masalah kekumuhan dalam beberapa hal memang benar tidak manusiawi untuk ditinggali. Namun yang sering dilupakan adalah kenyataan hadirnya aspek-aspek positif dalam kekumuhan itu sendiri yang memungkinkan warga yang hidup di dalamnya dapat bertahan hidup. Selama ini pembangunan perkotaan secara semena-mena memangkas semua hal yang berkaitan dengan kekumuhan tersebut tanpa terlebih dahulu melakukan pemilahan terhadap aspek-aspek negatif maupun positifnya. Seperti “membakar lumbung padi untuk menangkap tikus”.

Aku jadi ingat dengan obrolan sepintas antara aku dan seorang supir ketika aku menumpang di dalam taksinya. Kami berbicara ngalor-ngidul tentang Semarang yang relatif aman ketimbang kota-kota lain. Kata supir itu, “Yang penting bagi-baginya adil, mas”.

Lontaran yang sederhana. Tapi barangkali itulah yang sesungguhnya perlu. Bagi-baginya harus adil! Bila demikian logikanya, maka sebuah kota harus dibangun dengan mempertimbangkan sistem bagi hasil yang adil bagi warga di dalamnya, atau ia akan runtuh bersama kemarahan warga yang disingkirkannya. Bagaimanakah supaya kota dapat didirikan dengan tanpa menggusur warganya yang miskin?

Kembali kepada rektor di atas, dia bilang sebuah kota apabila ia ingin berkelanjutan maka ia harus memiliki visi yang meliputi 5 E, yaitu: Employment, Engagement, Equity, Environment, dan Energy Conservation. Employment (lapangan kerja) artinya kota harus dikembangkan dengan mempertimbangkan segi lapangan pekerjaan yang ditimbulkan olehnya, apakah lapangan pekerjaan tersebut sesuai dengan kondisi mayoritas warganya atau lapangan pekerjaan yang disediakan kota justru tidak cocok dengan kondisi warganya melainkan hanya cocok dengan keahlian-keahlian yang ada di luar kota? Engagement (keterlibatan) artinya pembangunan kota harus mempertimbangkan keterlibatan warga seluruh kota dalam setiap denyut nadinya. Equity artinya kota harus dibangun dengan mempertimbangkan kesamaan akses terhadap asset kota. Environment artinya kota juga harus dibangun dengan mempertimbangkan keseimbangan ekologis. Dan Energy Conservation artinya kota harus dibangun dengan memperhatikan pelestarian dan penghematan penggunaan energi.

Tata ruang kota juga harus mempertimbangkan seberapa jauh ruang-ruang yang didirikannya tidak membangun satu dinding yang tidak tertembus. Ruang-ruang fisik kota harus menghasilkan ruang-ruang sosial yang memungkinkan warganya menyeberangi batas-batas imaginer kelas dan bergaul dengan sehat.

(Dikutip dari catatan harian penelitian di masa lalu, wawancara dengan Eko Budiardjo, Rektor Undip, Semarang, 25 Juni 2001)

Tags: , , ,

Similar Posts
Read more:
Kencan yang Membosankan

Terkadang, kebohongan adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Anda. SAYA berjalan menyusuri labirin mal terbaru di Jakarta bersama Rani –...

Close