splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Para Tuhan Boleh Mati, Manusia Tidak

Posted By dennyhariandja on November 10th, 2008

ANDA ada di pihak mana ketika Obama menang dalam pemilihan presiden Amerika dua hari kemarin? Di pihak yang melihat kemenangan tersebut sebagai bagian dari kemenangan kecil umat manusia? Atau di pihak yang melihat kemenangan itu hanya sebagai sebuah hiruk-pikuk politik di belahan dunia yang jauh dan tidak penting bagi Anda?

Saya sendiri, awalnya, terbelah di antara dua pihak tersebut. Selama dua hari saya tidak dapat menentukan posisi saya. Haruskah saya ikut dalam pesta pora kemenangan Obama? Ataukah saya sebaiknya ikut masuk dalam barisan manusia yang dengan sinis melihatnya sebagai peristiwa yang sama sekali tidak terkait dengan diri saya dan tidak akan mempengaruhi atau membuat kehidupan saya menjadi lebih baik?

Kemarin saya masih condong pada pilihan kedua. Obama, meskipun pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia, tetap bukan siapa-siapa bagi saya. Ikatan Obama dengan Indonesia, saya rasa, terlalu dibesar-besarkan. Dalam banyak hal, Obama dan McCain sama saja bagi saya. Sentimen anti Amerika saya yang tidak adil dan rasis barangkali akan menyamakan mereka, dan orang Amerika mana pun, dengan George Bush – American Born Idiot!

Tapi, pagi ini, entah apa yang memulai, meskipun indeks finansial dunia kembali ambruk (07/11) (membuktikan faktor Obama tidak banyak pengaruhnya – setidaknya sampai hari ini), saya tiba-tiba sudah berada di pihak yang berbeda. Meskipun kurang tidur karena imsonia saya kembali kambuh, pikiran saya rasanya lebih bebas. Saya masih percaya pada kebaikan hati manusia. Saya masih percaya pada harapan. Saya masih percaya bahwa hasrat manusia untuk bebas, -untuk menjalani hidupnya dengan merdeka, untuk mendapatkan keadilan, untuk menikmati kualitas hidup yang lebih baik-, tidak boleh dibunuh – bahkan walau hanya oleh sikap sinis kita.

Saya masih percaya bahwa nasib manusia terkait dengan manusia lain. Itu adalah yang telah ditetapkan sejak manusia masih menjalani kehidupannya dalam pertarungan di padang rumput perburuan purba. Hanya dengan cara mengaitkan diri dengan manusia lain, manusia bisa selamat melewati guillotine seleksi alam yang tak kenal ampun.

Lagipula, bicara tentang politik dan nasib manusia Indonesia, rasanya terlalu tidak tahu diri bila kita mengatakan bahwa masa depan manusia tidak punya kaitan dengan peristiwa-peristiwa yang bergelombang di belahan dunia lain. Siapa yang bisa menyangkal bahwa gelombang demokrasi yang riaknya mulai menggelora di Indonesia sejak awal 90-an dan memuncak pada tahun 1998 merupakan bagian dari gelombang demokratisasi di belahan dunia lain.

Siapa yang bisa menyangkal bahwa perestroika yang dicanangkan seorang komunis Rusia merupakan salah satu program politik penting yang ikut mengubah wajah dunia kita? Begitu juga dengan runtuhnya tembok Berlin dan munculnya tulisan God is Tot di reruntuhan tembok itu yang seakan memaklumatkan kematian tuhan-tuhan kecil manusia – setelah kematian Tuhan dimaklumatkan oleh Niesztche. Martir-martir Lapangan Tiannamen, para paderi dan massa rakyat Burma yang dianiaya kediktatoran junta, rakyat yang terus berjuang mempertahankan haknya atas tanah di tepian Brantas sampai pesisir Danau Toba, mari kita deretkan di sini orang-orang tak bernama yang punya harapan bahwa masa depan bisa dibuat lebih baik lagi, mereka yang masih bisa percaya pada kebaikan hati manusia. Siapa berani bilang bahwa sikap diam kita tidak punya pengaruh apa-apa terhadap derita berkepanjangan manusia-manusia yang tergusur hak hidupnya di setiap sudut bumi? Jadi mengapa harus diam dan sinis ketika ada suara yang membawa harapan (walau sedikit) akan perubahan masa depan manusia?

Pagi ini saya bangun dengan kondisi kurang tidur, tapi sebagai manusia yang percaya bahwa masih ada harapan tersimpan di dalam kotak Pandora. Karena hanya dengan memelihara harapan-harapan itu-lah saya masih punya peluang (baca: harapan) untuk menjadi manusia, bukan budak dari apa pun, termasuk budak dari rasa takut saya akan kebebasan.

Tags: , , , , , , , , , , ,

Similar Posts
Posted in Personal Journal
  • Jeff

    Good point Den.. jadi inget kata-kata orang dulu…
    “Jalan hidup tiap orang beda-beda.” dan “Bukan masalah menang atau kalah (baca: Berhasil atau tidak berhasil), melainkan masih bersatu atau tidak pada akhirnya”… lagipula gue percaya.. “Secangkir Kopi adalah Sahabat dikala Sendiri, dan Semangat dikala Bersama.”

  • Jeff

    Good point Den.. jadi inget kata-kata orang dulu… “Jalan hidup tiap orang beda-beda.” dan “Bukan masalah menang atau kalah (baca: Berhasil atau tidak berhasil), melainkan masih bersatu atau tidak pada akhirnya”… lagipula gue percaya.. “Secangkir Kopi adalah Sahabat dikala Sendiri, dan Semangat dikala Bersama.”

  • Gilang

    Cantik sekali. Sinisme pada semua hal memang bukan untuk manusia yang manusiawi (homo humanus) -itu wilayah prerogatif filosof atau -mungkin- sebagian ahli tasawuf.

  • Gilang

    Cantik sekali. Sinisme pada semua hal memang bukan untuk manusia yang manusiawi (homo humanus) -itu wilayah prerogatif filosof atau -mungkin- sebagian ahli tasawuf.

Read more:
Twit Berbayar: Media Sosial, Iklan Terselubung, dan Hak Konsumen

BAGI sebagian orang, twitter terlalu bising dan mengganggu karena intensitas percakapan yang mungkin berlangsung sedemikian tinggi. Bila Anda adalah salah...

Close