splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Pria Tak Pernah Salah

Posted By dennyhariandja on May 1st, 2005

Ini saatnya untuk melakukan segala sesuatunya dengan cara saya!

JALANAN lengang. (Pukul 1 dini hari). Saya baru saja ditendang keluar dari apartemen Amanda, meninggalkan debaman pintu yang dibanting dengan kasar di belakang saya.

Supir taksi di sebelah saya mengemudikan taksi dengan kecepatan seorang setan jalanan. Saya melirik untuk memastikan dia duduk di belakang kemudi dengan mata terbuka. (Malam ini saya sudah mendapatkan cukup banyak masalah tanpa harus mempercayakan jiwa saya pada seorang setan jalanan yang mengantuk).

Di sebuah persimpangan – di ruas jalan Casablanca – barikade menghadang. Sepasukan polisi berdiri di tengah jalan memberikan isyarat berhenti kepada kendaraan yang lewat. Sebagian yang lain menggeledah pria dan mobil-mobil mereka. Razia orang-orang malam!

Selepas penggeledahan, setan jalanan di samping saya kembali menginjak pedal gas dalam-dalam – bahkan sebelum saya selesai mengaitkan sabuk pengaman. Entah ada masalah apa antara pria ini dengan kecepatan.

“Setiap wanita akan berkembang menjadi seperti ibu mereka. Itu adalah tragedi mereka.”
– Oscar Wilde

Enam jam sebelumnya. Saya berada di pembaringan bersama Amanda, 28 tahun, 34B/169/52, seorang konsultan pemasaran – perempuan yang memperkenalkan saya dengan sebotol Chateau Trianon Saint – Emilion Grand Cru, yang mendengar harganya saja sudah membuat saya mabuk.

Matanya terpejam membuat efek bulu mata yang runcing indah, kemudian menurun dalam lengkungan drastis di pangkal hidung yang bangir, kemudian mencuat lagi dengan indah pada bentuk bibirnya yang menggairahkan. Dadanya yang telanjang naik-turun dengan lembut seperti hendak menguapkan kristal-kristal keringat di pucuknya.

”Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke Pelabuhan Ratu akhir pekan nanti. Aku ingin melihat matahari tenggelam,” katanya bersama sensasi orgasmik yang menguap ke langit-langit kamar.

”Bukannya kamu bilang kamu akan pergi ke Surabaya bersama keluargamu?” kata saya, ”Dan aku sudah merencanakan untuk pergi ke Gunung Halimun pada akhir pekan itu.” Saya tidak mengatakan bahwa saya akan pergi bersama seorang perempuan lain dalam perjalanan itu.
”Ya, tapi aku berubah pikiran. Rasanya lebih asyik menghabiskan waktu bersamamu. Apa kamu kamu tidak bisa mengubah rencanamu?” tanyanya lagi.

Sebenarnya mudah saja untuk membatalkan rencana petualangan saya. Tetapi saya sudah terlanjur punya janji dengan perempuan lain itu. Dan itu membuatnya jadi lebih sulit. Lagipula saya kira saya membutuhkan perjalanan tersebut – baik untuk testosteron saya.

“Secara teoritis, sebaiknya seorang wanita menikah dengan pria yang lebih tua karena mereka lebih dewasa. Persoalannya, sebuah teori baru mengatakan bahwa pria tidak pernah menjadi dewasa.”
— Anonim –

Responnya sama sekali tidak terduga. Entah setan dari neraka mana yang merasuki Amanda. Ia mulai meracau tentang hal-hal yang tidak berkaitan. Semakin lama dalam nada yang semakin tinggi dan kata-kata yang semakin tajam begitu menerima penolakan saya untuk mengubah rencana. Setiap jawaban saya ditangkis dengan masalah yang semakin melebar. Ia mulai bicara tentang waktu yang sangat sedikit saya habiskan bersama dia, tentang bagaimana saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting (ia menuntut diperkenalkan kepada setiap orang yang ada di buku alamat saya), tentang saya yang lebih mementingkan petualangan, maskulinitas, dan pekerjaan saya daripada dirinya (apa saya harus jadi pengangguran?).

Siapa pula yang salah bila ia mengubah rencananya? Mengapa saya harus mengubah rencana saya hanya karena ia secara mendadak mengubah rencananya.

Similar Posts
Posted in Writings
Read more:
Jadi Penulis Jangan Lebay

SAMPAI sekarang saya masih menyimpan cita-cita yang belum kunjung terwujud - menjadi seorang penulis. Maksud saya di sini adalah penulis...

Close