splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Pulang Ke Yogyakarta

Posted By dny on October 11th, 2011

DALAM ingatan yang lekang, kota ini adalah rumah kedua bagiku. Sekarang, aku tidak yakin ini kota yang sama. Rindu pun tak tersampaikan. Itulah kesedihan yang saya rasakan setelah selama 2 hari (7-9 Oktober 2011) kemarin menyusuri lagi sebagian ruas jalan dan kawasan yang dulu pernah begitu akrab – Klitren, Gondokusuman, Cantel, Timoho, Janti, Suryoputran, Pogung, Kranggan, Jetis, Gondolayu, Terban, Kalideres, Batas Kota, Colombo, Jalan Solo, Samirono, Senturan, Jembatan Merah, Deresan….

Semoga tidak terlalu berlebihan bila saya menganggap kota ini adalah rumah kedua bagi saya. Delapan tahun dari masa menjadi dewasa saya habiskan di sini. Kedatangan saya pertama kali ke kota ini – tidak terasa – hampir 20 tahun lalu! Tahun pertama saya tinggal di Klitren Lor, di rumah seorang teman SMA dari Jakarta. Saya menempati salah satu kamar di rumahnya yang sebenarnya dijadikan indekos khusus untuk wanita. Jadilah saya salah dua – salah satunya teman saya itu sendiri – lelaki yang tinggal di dalam rumah yang isinya enam orang wanita. Semula, perjanjiannya, saya menyewa kamar tersebut dari seharga Rp 150.000 per tahun. Tapi, berhubung keluarga saya miskin, saya meminta keringanan untuk membayar per setengah tahun terlebih dulu – Rp 75.000. Belakangan, karena tidak kunjung punya uang, sejumlah itu lah yang saya bayarkan untuk pertama dan terakhir kalinya selama dua tahun saya tinggal di rumah itu.

Dari Klitren saya pindah ke rumah sepupu saya di Suryoputran. Lalu pindah lagi, menumpang di kontrakan sepupu saya yang lain, di Senturan. Sebelumnya saya sempat berpindah-pindah, menumpang, di kamar kos teman-teman kuliah. Sempat juga menumpang tidur di kantor sekretariat majalah fakultas. Lalu menumpang lagi di kamar kos teman di daerah Janti.

Jadi, hampir selama tujuh tahun di Yogyakarta, saya hidup menumpang. Seingat saya hanya dua kali saya menyewa kamar kos – ketika di Klitren dan di Jembatan Merah. Selebihnya…menumpang di kamar orang. Tentu saja bukan hanya saya yang punya pengalaman seperti ini. Setahu saya sih banyak juga teman-teman yang hidupnya menumpang seperti itu. Bukan cuma saya lho.

Tapi bukan itu hal utama yang ingin saya ceritakan di sini. Dalam kunjungan terakhir saya ke Yogyakarta kemarin, melihat perubahan yang terjadi di sana, apalagi mendengar semakin komersiilnya universitas-universitas di kota yang dulu begitu sederhana ini, saya jadi ingin tahu: seperti apa kehidupan mahasiswa sekarang di kota ini?

Seingat saya, di sepanjang Jalan Gejayan dulu, ada tiga bisnis utama yang menjamur: usaha fotokopi, warnet, dan rumah makan. Sekarang? Toko handphone! Tempat fotokopi? Mungkin terlewatkan oleh saya, tapi kemarin saya tidak melihatnya. Padahal dulu, tidak ada satu pun tempat fotokopi yang bebas dari antrian. Mungkinkah mahasiswa di Yogyakarta sekarang tidak lagi membaca buku cetak, mereka membaca buku digital? Atau mereka tidak membaca buku lagi?

Dulu, saya pernah mengalami, ketika sekelompok pedagang kaki lima yang terancam diusir pergi dari lingkungan kampus mengadu kepada mahasiswa. Sekarang? Saya tidak tahu. Tapi cerita yang saya dengar dari saudara ipar saya yang orang Yogyakarta asli….untuk masuk ke lingkungan kampus tempat saya pernah belajar itu harus membayar semacam tiket masuk. Saya tidak tahu apakah cerita dari saudara ipar saya itu benar atau tidak, karena saya tidak berkesempatan mencobanya. Tapi bila itu benar….seberapa terisolasinya kehidupan intelektual di dalam kampus yang pernah menyebut dirinya “kampus kerakyatan” itu dari kehidupan rakyat di luar dinding menara gadingnya?

Entahlah. Kunjungan selama dua hari tentu saja tidak cukup untuk memahami lagi kota yang sudah sepuluh tahun tidak saya sapa ini. Jelas saya harus datang lagi…dan berharap tidak kehilangan rumah kedua saya.

Tags: , ,

Similar Posts
  • Sudah banyak yang berubah bro….

  • Hendrorustadi

    tapi kota gudeg ini tetep ngangeni.. bravo Jambul

  • Yahhh….emang bikin pengen balik ke sana terus yah, bro.

  • Yoi, bro. Ke tempat Bang Ucok yang deket ama kontrakan elu dulu aja gua sampe nyasar2 gara-gara lingkungannya banyak berubah.

Read more:
Kejanggalan di Akun Twitter TV One

ADA yang janggal dengan akun twitter TV One malam ini. Entah apa yang terjadi di ruang berita TV One sebelum...

Close