splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Surviving The Layoff

Posted By dny on August 24th, 2010

PADA suatu hari kerja, dua tahun lalu, saya mengenakan pakaian lebih rapih dari biasanya. Kemeja G2000 model terbaru yang ujungnya saya masukkan ke dalam celana katun merek serupa. Meskipun tanpa jas dan dasi, hari itu memang saya lebih rapih daripada kebiasaan saya yang membiarkan ujung-ujung kemeja saya lepas begitu saja. Cara berpakaian yang di luar kebiasaan ini sebenarnya tanpa alasan khusus. Hanya ingin saja. Saya pikir tidak ada salahnya sesekali bergaya di luar gaya standard saya.

Namun, mungkin karena ini sangat jarang saya lakukan, hampir semua rekan kerja saya – yang berjumlah sekitar 40-an orang di kantor Pulogadung – menyadarinya. Kerapihan saya pada hari itu memang seperti sebuah penyimpangan. Apalagi di tengah rekan kerja yang terbiasa berada di lapangan, menempuh 60-an km per hari dengan sepeda motornya, (Anda pasti tahu bagaimana cara orang lapangan berpakaian), dan di “kantor cabang” yang kecil – sedikit saja variasi baru dari salah satu anggotanya bisa langsung menarik perhatian umum.

Dan, sesuatu yang di luar kebiasaan selalu mengundang komentar dan keingintahuan yang tersembunyi. Begitu sampai ke meja saya, seorang rekan langsung mengajukan pertanyaan yang mungkin konyol dan terlalu ingin tahu: โ€œHabis job interview di mana?”

Saya menjawab dengan tawa yang masam. Kendatipun pada saat itu kabar angin sudah berhembus kencang tentang “kantor cabang” kami yang akan dilikuidasi, saya sedang tidak terburu-buru untuk mempersiapkan “perahu baru” saya. Lagipula, waktu saya terlalu sempit untuk mengatur alur kerja editorial untuk empat buah koran (dua koran terbit per minggu). Mana sempat lagi melirik-lirik ke tempat lain. Selain itu, meskipun kondisi kerja belum lagi sesuai dengan apa yang dimimpikan, namun untuk sementara saya masih melihat potensi yang lebih baik dalam karier saya di perusahaan ini di masa depan.

Satu-satunya rahasia bagi sebagian besar orang di kantor ini adalah siapa saja yang akan pulang lebih cepat dengan amplop cokelat berisi pesangon.

Jumat adalah hari yang relatif normal meskipun kepadatan deadline pekerjaan dari tim editorial yang saya pimpin justru mulai meningkat. Dan seperti Jumat yang biasa saya mengenakan celana jeans dan kemeja lengan pendek yang kasual. Semuanya berjalan biasa. Hanya ada sedikit tanda bahwa sebagian besar dari karyawan di “kantor cabang” ini akan pulang lebih cepat. Itu memang bukan rahasia dalam seminggu terakhir. Satu-satunya rahasia bagi sebagian besar orang di kantor ini adalah siapa saja yang akan pulang lebih cepat dengan amplop cokelat berisi pesangon.

Hari itu, tiga buah koran dilikuidasi sekaligus – dengan alasan biaya produksi yang terlalu besar. Hanya seperempat karyawan yang dipertahankan. Itu pun entah untuk berapa lama. Tidak ada yang tahu persis. Ada yang masih optimis bahwa koran yang tinggal satu ini akan selamat. Ada yang pesimis. Tugas terberat saya pada hari-hari selanjutnya adalah menjaga agar mental tim editorial saya, yang hanya tersisa tiga orang, tidak hancur. Itu adalah pekerjaan yang lebih berat daripada memastikan koran yang kami tangani bisa terbit tepat waktu dalam kondisi apa pun.

Tidak lama kemudian, hanya berselang sekitar sebulan, koran terakhir pun akhirnya ditutup juga. Kembali kami yang tinggal di kantor cabang tersebut mengalami proses yang sama – satu per satu nama dipanggil memasuki sebuah ruangan kecil dan keluar membawa amplop cokelat berisi pesangon.

Semuanya berjalan terlalu cepat. Likuidasi koran terakhir ini bahkan berlangsung tanpa peringatan sama sekali. Ketika itu saya sedang punya janji untuk ketemu dengan kapolsek baru di salah satu wilayah kerja kami. Dan saat menunggu kapolsek tersebut di kantornya tiba-tiba saya ditelepon kantor pusat dan diminta untuk segera pergi ke kantor pusat. Dan janji ketemu dengan kapolsek itu pun harus dibatalkan. Sampai saat itu pun tidak pernah terpikir oleh saya bahwa pemanggilan mendadak ini terkait dengan likuidasi koran terakhir kami. Itu karena sebelumnya kami masih tetap optimis bahwa koran kami akan bangkit kembali dan mampu menghidupkan saudara-saudaranya yang sudah dimatikan.

Saya pernah merasa bangga karena dilihat orang sebagai “the rising star” dan “talented person” di perusahaan media tempat saya bekerja. Dan saya pernah begitu yakin pada masa depan koran-koran kecil kami dan orang luar melihatnya sebagai sebuah bisnis yang cukup berkembang dan menjanjikan (di sinilah ironisnya). Saat ini, saya merasa bodoh karena sampai sekarang masih banyak hal yang tidak bisa saya pahami terkait dengan apa yang ada di balik penutupan koran-koran kami itu.

Saya yakin itu bukan salah saya atau tim editorial saya. Namun, jauh di pedalaman diri saya sadar bahwa itu percuma saja – mencoba membuat situasi yang tidak rasional agar terlihat rasional adalah jalan paling cepat untuk membuat Anda jadi stres.

Secara keseluruhan, dari tim editorial yang saya pimpin, hanya saya, seorang staf redaksi, dan seorang fotografer yang baru beberapa bulan bekerja bersama kami yang tetap dipertahankan dan ditarik kembali ke kantor pusat untuk pekerjaan yang kami sendiri belum jelas benar. Dan saya bisa melihat bagaimana kami mengalami demikian banyak kegelisahan dan ketidaknyamanan di “tempat baru” kami. Sebagian karena tidak juga bisa menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang terus menggugat tentang apa sebenarnya yang terjadi pada koran-koran kami – terus mencoba mencari jawaban, mencari rasionalisasi atas segala hal. Sebagian lagi karena hancurnya kepercayaan diri, inferioritas di lingkungan kerja kantor pusat yang lebih gemerlap, ketidakpastian karier, dan banyak lagi alasan personal yang unik. Saya tahu itu karena saya juga mengalami hal yang sama.

Saya punya pekerjaan tetap dan karier yang sebenarnya tidak jelek. Namun, situasinya sudah berubah. Kapan saja saya bisa terpaksa keluar dari wilayah aman saya. Fakta penting, yang akhirnya saya sadari, saya sudah terlalu lama bekerja di perusahaan ini. Dengan satu atau lain cara, dari satu peristiwa ke lain peristiwa, seperti ada yang mendorong saya untuk melompat keluar. Apa yang berlangsung di sekitar meja kerja saya dalam setengah tahun terakhir seperti ikut mendesak saya. Dan setelah jarak dua tahun dari rentetan peristiwa di atas, pertanyaannya adalah: kapan giliran saya?

Tags: , ,

Similar Posts
Posted in Personal Journal
  • Anonymous

    One of my boss’ favourite book… and he kept talking bout it over the lunch in the past few month.. .especially during PEMILU…

    Somehow i’m proud to be indonesian, cos we’re part of a big conspiration theory the world being talking about…

    KAMI BANGGA dan KAMI TIDAK TAKUT… ๐Ÿ™‚

  • Lucky Lombu

    “Saya punya pekerjaan tetap dan karier yang sebenarnya tidak jelek. Namun, situasinya sudah berubah. Kapan saja saya bisa terpaksa keluar dari wilayah aman saya. Fakta penting, yang akhirnya saya sadari, saya sudah terlalu lama bekerja di perusahaan ini. Dengan satu atau lain cara, dari satu peristiwa ke lain peristiwa, seperti ada yang mendorong saya untuk melompat keluar. Apa yang berlangsung di sekitar meja kerja saya dalam setengah tahun terakhir seperti ikut mendesak saya. Dan setelah jarak dua tahun dari rentetan peristiwa di atas, pertanyaannya adalah: kapan giliran saya?”

    what a life…

  • That’s life, lombu ๐Ÿ™‚

  • Pingback: Menuju Konvergensi Ruang Berita | Journeme-Journalism|New Media|Writings|Personal Journal()

Read more:
Bintan Trip: Matahari Terbit Pertama

SAYA bangun dini sekali (04.30) karena, berdasarkan pengalaman mendaki gunung, langit timur mulai memerah mulai pukul 05.00. Namun perkiraan saya...

Close