splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Tanda Tanya

Posted By dennyhariandja on July 23rd, 2004

Ini adalah masalah yang tidak akan pernah Anda ketahui akhirnya sebelum Anda sampai ke sana.

ADA suatu waktu ketika hubungan saya dengan Noni diselingi oleh orang ketiga. Bukan. Sayang sekali, bukan juga three-some yang selalu saya impikan itu.

“Ciuman bisa berarti koma, tanda tanya atau tanda seru – atau bukan apa-apa. Itu adalah tata bahasa paling dasar yang harus Anda tahu.”
-Margi-

Perempuan itu teman lama Noni. Namanya Margi. 28 tahun, cantik, lulusan sekolah bisnis di London, dan bisa memainkan piano sekelas pianis yang biasa tampil di resital musik klasik. Ia bekerja di sebuah perusahaan brand consulting.

Hubungan Margi dengan seorang pria bernama Jefri baru saja berakhir dengan penyelesaian yang tidak terlalu menyenangkan. Jefri tidak juga bisa memberikan keputusan tentang masa depan mereka berdua sementara Margi sudah menginginkannya segera sampai pada ujung yang membahagiakan – seperti dongeng H. C. Andersen di ingatan kanak-kanaknya.

“Aku tidak bisa mengerti kenapa Jefri tidak bisa mengambil keputusan tentang hal ini. Apalagi yang membuatnya menjadi sulit?” kata Margi tanpa bisa menyembunyikan sisa-sisa emosinya yang tertinggal.

Kelihatannya memang sesederhana menutup sebuah buku dan melanjutkannya ke dongeng yang lain.

“Apalagi yang harus diuji ketika kami sudah menempuh hubungan ini dalam waktu dan jarak yang panjang. 5 tahun dan Jakarta-London bukan ujian yang enteng,” sambung Margi.

Saya tidak tahu kenapa Noni merasa perlu mengajak saya dan mendengarkan satu lagi obrolan yang seakan-akan ingin mendorong saya ke pojok. Sudut sempit yang membuat saya benar-benar tidak bisa berkelit dari serangan yang ringan sekalipun.

“Mungkin Jefri membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan lebih dalam. Kenapa Margi tidak menunggu saja sampai saatnya tiba?” tanya saya.

“Berapa lama seorang perempuan bisa bertahan dalam situasi yang tidak pasti?” Noni balik bertanya. Sebuah serangan balik!

Saya heran mengapa Noni belum juga mengajukan pertanyaan yang sama secara langsung kepada saya. Entah apa lagi yang ditunggunya. Tapi saya lega Noni tidak menanyakannya. Saya sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana bila pertanyaan tersebut diajukan sekarang.

“Ijinkan saya menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepada Anda, kawan; Anda berhasil mendapatkan satu vagina untuk seumur hidup. Pintar sekali, kawan!”
-Tokoh Beanie dalam “Old School”-

Belakangan saya sadar Noni secara tidak langsung mengajukan pertanyaan sulit itu kepada saya melalui situasi yang dengan cerdik diciptakannya. Margi adalah sebuah umpan yang tepat. Saya tidak pernah mengira Noni bisa memanfaatkannya dengan siasat yang begitu jitu. (Kalau saya tahu dari awal pasti saya menolak untuk ikut dalam kencan segitiga itu).

Noni berhasil mendorong saya ke sudut yang menakutkan itu – tanpa bertanya langsung. Apakah saya akan seperti Jefri yang membutuhkan injury time untuk menimbang segala sesuatunya – dan akhirnya kehilangan Noni seperti Jefri kehilangan Margi? Atau memberikan kepastian itu sementara saya sendiri tidak bisa memastikan untuk diri saya sendiri?

Similar Posts
Posted in Writings
Read more:
Cinta Lewat Monitor

Seks itu lebih dari sekedar dua pasang kaki telanjang yang saling tindih di tempat tidur. “Saling ketertarikan yang paling menggetarkan...

Close