splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Tanggung Renteng, Koperasi Wanita, dan Siasat Budaya UMKM

Posted By dny on August 5th, 2010

Artikel ini merupakan ringkasan dari sebuah tulisan dalam buku Tanggung Renteng yang diterbitkan secara terbatas oleh Puskowanjati dan Limpad (didanai oleh Ford Foundation). Isi tulisan ini sendiri merupakan interpretasi pribadi saya setelah terlibat dalam sebuah penelitian di tahun 2000 yang menelaah sistem ini dan koperasi-koperasi yang menerapkannya.

MERUJUK pada apa yang dituturkan aliran Neo-Marxis tentang keterasingan manusia modern, hubungan manusia dengan kebudayaan memang jadi terlihat paradoks. Di satu sisi manusia adalah pencipta kebudayaan dalam rangka menyiasati kesulitan-kesulitan hidup dan memudahkan kehidupannya; di sisi lain, -pada titik tertentu-, kebudayaan telah beralih-rupa menjadi yang dipertuan atas manusia. Pada titik tersebut, manusia tidak lagi menentukan secara sadar eksistensi dirinya di tengah kehidupan. Ia juga tidak lagi menentukan secara rasional apa yang diinginkan atau diperlukannya. Segala sesuatunya telah ditentukan oleh kebudayaan, manusia tinggal mengikuti saja alurnya. Apa yang kita kira merupakan kesadaran kita, -misalnya: kesadaran atau pilihan tentang apa yang harus kita konsumsi atau kita beli-, disorot dari kacamata “keterasingan” sebenarnya bukanlah kesadaran kita melainkan satu buah pikiran atau pilihan yang ditentukan oleh iklan. Demikian juga pilihan-pilihan perilaku yang kita ambil dalam kehidupan sosial sebenarnya adalah pilihan-pilihan atau keharusan tindakan yang telah ditentukan oleh sistem nilai yang sebelumnya telah disiapkan untuk individu. Singkatnya, kita semakin terasing dari ”pilihan-pilihan bebas” dalam menentukan eksistensi kita.

…kesepakatan sosial tersebut merupakan hasil “paksaan” mereka yang memiliki keunggulan akses sumber-sumber ekonomi terhadap mereka yang tidak memiliki akses tersebut…

Dengan demikian, hubungan sosial sesungguhnya tidak terjadi berdasarkan satu kontrak atau kesepakatan sosial yang dilakukan oleh masing-masing orang dalam kedudukan yang setara. Selalu saja yang namanya kesepakatan sosial tersebut merupakan hasil “paksaan” mereka yang memiliki keunggulan akses sumber-sumber ekonomi terhadap mereka yang tidak memiliki akses tersebut.

Dalam situasi keterasingan seperti itu menjadi menarik untuk mengamati perilaku kelompok masyarakat yang paling teralienasi dalam satu kebudayaan yang berlaku di perkembangan masyarakat tertentu, yaitu: mereka yang tidak atau kurang bermilik dan, -dengan demikian-, tidak memiliki kekuasaan atas kebudayaan tersebut. Selalu saja di setiap perkembangan sejarah kelompok masyarakat ini memunculkan sub-sub kebudayaan yang menjadi antitesis bagi kebudayaan utama yang berlaku. Pada beberapa peristiwa sub-sub kebudayaan tersebut berhasil bangkit dan menumbangkan kebudayaan yang dominan untuk kemudian menampilkan dirinya sebagai kebudayaan utama dalam masyarakat yang baru. Pada peristiwa-peristiwa lain, sub-sub kebudayaan tersebut tidak pernah berhasil, -dan barangkali tidak pernah bertujuan-, menumbangkan kebudayaan yang dominan.

Dalam kasus seperti yang disebut belakangan, sub-sub kebudayaan tersebut hanya berfungsi sebagai alat resistensi kaum yang kurang atau tidak bermilik untuk mempertahankan eksistensi dirinya di tengah himpitan budaya yang dominan.

Dalam konteks demikian, maka topik utama yang dibahas dalam tulisan ini, -yaitu: sistem berkelompok tanggung-renteng-, dicermati sebagai sebuah siasat kebudayaan masyarakat marginal.

Dari pijakan posisi intelektual ataupun politik manapun, “rakyat kecil” selalu menjadi “komoditas” yang dianggap menentukan arah perkembangan suatu masyarakat. “Siapa yang bisa kasih makan rakyat, dia akan berkuasa”, begitulah jargon utamanya. Di Indonesia sendiri, cita-cita membangun perekonomian nasional yang mandiri tidak pernah bisa dilepaskan dari perhatian terhadap perekonomian rakyat kecil yang telah beratus tahun dipinggirkan dan disudutkan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi perkebunan pada masa kolonial maupun kekuatan-kekuatan ekonomi global pada masa kemerdekaan. Dan konstitusi nasional sendiri telah mencantumkan dasar-dasar cita-cita tersebut dalam retorika “keadilan sosial bagi seluruh rakyat” dengan soko-guru dan punggawa penjaga bentengnya adalah koperasi.

Kepemilikan dan pengurusan modal secara bersama mungkin saja bisa menjadi senjata untuk masyarakat bawah yang tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber ekonomi.

Kepemilikan dan pengurusan modal secara bersama mungkin saja bisa menjadi senjata untuk masyarakat bawah yang tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Oleh karena itu program-program yang bertujuan untuk melembagakan dan membudayakan kehidupan berkoperasi menjadi penting. Hal ini, secara formal, juga menjadi komitmen pemerintah, -betapapun sering dituding sebagai sekedar retorika politik-, seperti yang tersurat dalam dokumen-dokumen resmi negara.

Tags: , ,

Similar Posts
Posted in Personal Journal
Read more:
Truck Wanna Be

INI adalah motor yang mengira dirinya sebuah truk. Foto ini diambil di Jalan Agus Salim, Bekasi, dengan Sony Ericsson K800i....

Close