splash
Selamat Datang!
Ini adalah blog pribadi Denny Hariandja. Isi blog ini sepenuhnya merupakan pandangan dan tanggungjawab saya pribadi.
Posted By dny on August 2nd, 2010

http://dennyhariandja.com/masa-kecil-tanjung-priok-1984/

NAMAKU Martinus Dante. Saat ini aku bekerja sebagai editor di sebuah kelompok penerbitan media gaya hidup. Aku adalah salah seorang yang ikut menentukan pakaian apa yang harus Anda kenakan besok, kemana Anda harus berlibur tahun depan, siapa yang harus Anda kencani, instruksi apa yang harus Anda berikan kepada penata rambut Anda, gadget apa yang harus […]

 

Traveling Thailand: Noddle Soup, Kulit Babi Goreng, dan Pasar Malam Chiang Mai

Posted By dny on December 5th, 2011

Di Anusarn Market

HARI masih pagi sekali ketika mobil yang kami charter semalam datang menjemput untuk mengantar kami ke Phuket International Airport. Yah, hari ini kami akan terbang ke Chiang Mai – bunga mawar di utara Thailand. Kami berangkat dari Phuket International Airport pukul 10.35 dan tiba di Chiang Mai pukul 12.30.

Dari bandara Chiang Mai, setelah mengumpulkan beberapa brosur wisata dan peta, rencananya kami langsung menuju Lanna Palace Hotel di Changklan Road, Wua Lai, dengan taxi meter. Tapi dalam perjalanan ke hotel, supir taksi yang membawa kami menawarkan untuk mengantar kami ke tempat makan siang yang istimewa dan tur gratis siang itu ke beberapa tempat penjual kerajinan khas di Chiang Mai – dengan catatan, bila kami setuju untuk menggunakan taksinya untuk wisata di keesokan harinya. Tentunya dengan harga yang sangat istimewa. Setelah membandingkan secara cepat harga beberapa tawaran tur di seputar Chiang Mai sampai Golden Triangle, kami memutuskan untuk menerima tawaran supir taksi itu. Lumayan. Hemat sekitar 1500 Baht, menurut perhitungan cepat kami. Jadi kesepakatannya – kami akan diantar untuk wisata kota dari siang ini sampai sore nanti, lalu dilanjutkan dengan tur keliling Thailand Utara – Chiang Mai-Chiang Rai-Golden Triangle-Mae Sai, plus bonus diantar ke Chiang Mai Zoo untuk nonton Panda keesokan harinya lagi.

Jadilah kami putar haluan. Tujuan pertama adalah makan!

Kami pesan dari awal kepada supir taksi tersebut agar kami dibawa ke tempat makan yang populer di kalangan penduduk lokal – jangan dibawa ke tempat makan para turis. Akhirnya kami dibawa ke sebuah restoran bernama Satesinlp Restaurant – entah bagaimana membacanya – di Sankhamphaeng Road. Rasa makanannya sih sepertinya orisinil, lumayan lezat, dan terlebih penting…ternyata murah sekali untuk sebuah restoran yang kelihatannya cukup “mahal”, hanya 400 Baht untuk makan bertiga sampai kenyang (total ada 5 masakan yang kami pesan).

Setelah kenyang, kami diantar berkeliling pusat kerajinan di kawasan Borsang dan Sankamphaeng Road – yahh…kira-kira seperti kawasan Kota Gede di Yogyakarta. Bedanya di sini jenis kerajinan yang ditawarkan beragam – mulai dari sutera, batu mulia, perak, sampai payung. Buat saya sih tidak menarik tempat wisata belanja seperti ini. Jadi mari kita lewatkan saja dulu.

Menenun Sutra


Menjelang sore, kami langsung berangkat menuju Lanna Palace Hotel. Hotelnya sepi. Mungkin karena belum musim turis. Atau karena lokasinya yang agak di pinggir pusat kota Chiang Mai – cuma dekat ke Night Bazaar. Mungkin juga karena promosi wisata di Thailand Utara memang belum segencar Thailand Selatan.

Setelah mandi dan istirahat beberapa saat, kami keluar untuk cari makan dan lihat-lihat Chiang Mai di malam hari. Kami memutuskan berjalan kaki ke arah Night Bazaar. Pasar malam ini terletak di Chan Klan Road, di antara Tha Pae dan Sri Donchai road. Di sepanjang jalan itu, trotoarnya dipenuhi pedagang kaki lima – menjual baju, barang kerajinan, makanan, parfum, dan barang-barang bermerek (tentunya palsu).

Warung noodle soup


Karena saya tidak suka belanja, pusat perhatian saya adalah makanan. Ada dua jenis makanan enak yang saya temui di pasar malam Chiang Mai ini. Yang pertama adalah noodle soup di sebuah warung pinggir jalan yang letaknya persis di samping Burger King dan di depan Hotel Le Meridien. Saya memilih untuk makan di sini karena setelah dua-tiga kali bolak-balik di depannya saya lihat mejanya selalu terisi penuh oleh tamu-tamu yang datang silih-berganti. Ternyata memang enak.

Penjual kulit babi goreng


Satu lagi makanan yang saya temukan secara tidak sengaja adalah kulit babi goreng! Tempatnya saya temukan ketika menyusuri labirin-labirin Anusarn Market yang padat manusia. Di salah satu sudut, saya melihat ada satu kerumunan yang sepertinya agak berbeda dengan kerumunan orang di sudut-sudut lain pasar malam ini. Saat saya dekati, saya lihat orang-orang menunggu pesanannya berupa berbungkus-bungkus plastik kulit babi goreng. Sekali lagi, tidak cuma satu-dua bungkus tapi belasan bungkus! Kesimpulan saya: ini pasti enak. Dan kesimpulan saya benar. Sepanjang malam, di hotel, saya tidak berhenti ngemil kulit babi goreng.

Tags: , , , ,

Similar Posts
Read more:
Bintan Trip: Matahari Terbit Pertama

SAYA bangun dini sekali (04.30) karena, berdasarkan pengalaman mendaki gunung, langit timur mulai memerah mulai pukul 05.00. Namun perkiraan saya...

Close