Bersepeda Lintas Alam Kintamani-Klungkung

Danau Batur
Pukul 08.00, tepat seperti yang dijanjikan, Wayan sudah menunggu di depan tempat kami menginap, di belakang Monkey Forest, tidak jauh dari Coffee & Copper. Masuk ke dalam mobil, di dalam sudah duduk pasangan dari Perancis. Dan kami langsung berangkat menuju Kintamani.

Rupanya, tur konvensional juga menjadi bagian dari paket yang ditawarkan Wayan. Dalam perjalanan menuju Kintamani, titik awal tur bersepeda yang akan kami jalani, kami diajak berhenti sebentar di Pura Kehen, salah satu pura utama peninggalan kerajaan kuno Bali, yang terletak di Desa Cempaga, Bangli. Sebentar di sana, perjalanan dilanjutkan. Namun kembali kami berhenti dulu di Desa Penglipuran, masih di Bangli. Tentu saja, dua perhentian pertama ini merupakan semacam layanan terhadap keingintahuan kedua teman baru kami yang datang dari Perancis itu. Lagi-lagi tidak lama kami di Penglipuran, perjalanan dilanjutkan sampai ke Kintamani, di sebuah titik tinggi yang membuat mata leluasa memandang Danau Batur. Ini adalah tempat perhentian terakhir sebelum kami memulai tur bersepeda downhill yang sesungguhnya.

Setelah habis secangkir kopi, kami masuk ke dalam mobil dan meneruskan perjalanan. Selang 15 menit, kami sampai di sebuah jalan sepi yang membelah kawasan hutan lindung. Mobil kami berbelok masuk ke jalan tanah di sebelah kanan jalan. Sepeda-sepeda diturunkan dari mobil. Perlengkapan – helm dan sarung tangan – dibagikan. Kemudian memberikan arahan tentang rute yang akan kami jalani, jarak yang harus dijaga, gir yang harus dipergunakan, sampai sisi jalan yang harus dipilih. Selesai arahan Wayan, setelah foto bersama, kami memulai petualangan bersepeda ke pedalaman Bali ini. Wayan melaju di depan sebagai penunjuk jalan, belakangan sesekali ia mengambil posisi di belakang barisan.

2 thoughts on “Bersepeda Lintas Alam Kintamani-Klungkung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *