Bersepeda Lintas Alam Kintamani-Klungkung

Di awal rute ini, ban sepeda kami menggilas jalan aspal selebar sekitar 1,5m dengan permukaan yang tidak mulus, rusak di sana-sini. Di kiri-kanan pohon-pohon hutan lindung seperti berlari ke belakang kami. Jalanan yang kami lalui memang menurun, meski landai, sehingga sepeda kami dapat melaju dengan kecepatan sekitar 20km/jam tanpa dikayuh. Sesekali pepohonan di sisi kami menghilang digantikan pemandangan lepas. Rupanya kami sedang melintas menyusuri sisi perbukitan.
Sabung Ayam
Sekitar sepuluh menit kemudian, jalan aspal habis. Di depan kami jalan tanah, yang juga bergelombang, membentang panjang, berkelok, masih menurun. Jalan utama dimana kami pertama kali masuk sudah beberapa kilometer di belakang sana. Tiba-tiba kami sadar bahwa kami tidak mendengar lagi suara-suara mesin dari dunia modern, hanya sesekali ketika berpapasan dengan penduduk lokal. Itu pun sangat jarang. Kami berada di sisi Bali yang sangat berbeda dari sisi yang pernah kami kunjungi.

Melewati perkampungan penduduk – yang sudah saya tidak perhatikan lagi namanya – adalah hal yang tidak terbeli di kota besar. Kami tahu harus mengayuh sepeda lebih cepat lagi ketika berpapasan dengan anjing-anjing kampung yang sangat bersemangat mengejar kami seperti tidak pernah melihat sepeda melintas. Anak-anak pun tidak kalah bersemangatnya, meninggalkan permainan mereka untuk mengejar kami sambil berteriak-teriak, “Hello, hello, hello!”. Jadilah kami menikmati alam tempat tinggal mereka, dan mereka menikmati kami sebagai tontonan.

Beberapa kilometer lagi ke pedalaman Bali ini, kami masuk sebuah desa – ada keramaian di sana. Rupanya, kedatangan kami pas waktunya dengan musim ngaben. Dan keramaian itu adalah sabung ayam. Kesempatan yang jarang bisa kami temui ini membuat kami memutuskan untuk berhenti sebentar melihat-lihat. Ini dunia yang benar-benar berbeda – kami berada di perut Bali.

Puas melihat-lihat apa yang dilakukan penduduk lokal dalam acara seperti itu, kami melanjutkan lagi perjalanan, masih menyusuri jalan tanah yang bergelombang, menurun, dan berkelok, sampai akhirnya berbelok masuk ke sebuah jalan setapak dan masuk ke dalam sebuah rumah. Lagi-lagi ini adalah atraksi buat teman-teman Perancis kami yang tidak pernah melihat pohon kelapa, salak, dan keripikk tempe. Itulah yang disajikan pemilik rumah kepada kami. (Teman-teman Perancis kami bertepuk tangan ketika pemilik rumah memanjat pohon kelapa.) Inilah akhir dari semacam etape pertama kami.

2 thoughts on “Bersepeda Lintas Alam Kintamani-Klungkung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *