Di Antara Dua Kencan

Pukul 10.25, sebuah taksi membawa Kiki pergi bersama ketidakpercayaannya pada omongkosong saya. Saya bergegas kembali ke apartemen dan tergesa-gesa melakukan pemeriksaan. Kamar mandi: memindai segala macam produk non-maskulin, gumpalan tissue yang kusut dengan bekas lipstick. Bersih. Tempat tidur: lembaran rambut panjang di atas bantal, anting-anting. Beres. Dapur: gelas dengan bekas lipstick di bibirnya. Selesss …

“Bila Anda tidak tertangkap artinya Anda tidak melanggar hukum.”
– Tulisan di sebuah T-Shirt

Bel berbunyi.

Rani! Gawat! Sisa parfum Kiki di tempat tidur!

“Sebentar!” teriak saya panik. Saya membutuhkan sesuatu dengan aroma yang cukup menyengat. Saya berlari ke kamar mandi, meraih aftershave, dan menuangkan sebanyak mungkin ke tangan saya. Berlari kembali ke kamar tidur, memercikkan aftershave di tangan saya ke atas bantal dan seprai. Secepat kilat kembali ke depan pintu. Membuka pintu, sekilas mencium bibir perempuan yang sudah menunggu di belakang pintu itu, lalu menyeretnya masuk.

“Kok aku seperti masuk ke barbershop?” tanyanya heran ketika masuk ke dalam.

“Aku baru saja selesai bercukur,” jawab saya.

“Baiklah, kamu mengaku secara jujur atau kamu ingin bilang bahwa ini adalah kali yang pertama?”
-Tokoh Heidi dalam serial Old School

Rani melepaskan sepatu dan menghempaskan pantatnya ke atas sofa. Sebuah penjepit rambut dengan gigi-gigi seperti taring hiu menyembul sedikit dari bawah bantal sofa. Saya lupa kalau saya sempat bergumul dengan Kiki di sofa semalam.

“Jalan-jalan yuk?” ajak saya sebelum Rani sempat menemukan hal-hal mencurigakan yang mungkin terlewat oleh aksi pembersihan saya. Seperti penjepit rambut itu!

“Tidak bisa. Aku hanya mampir sebentar. Hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu,” jawabnya.

Paling soal pacarnya yang brengsek itu, pikir saya.

Handphone saya berdering ribut di dalam saku celana. (Saya lupa menyetel deringnya ke mode getar). (Pasti Kiki!). Saya membiarkannya.
“Kamu tidak ingin menerima telepon itu?,” kata Rani ketika akhirnya saya merogoh kantong dan mematikan handphone.

“Ah, biarkan saja. Pasti bukan hal yang penting,” kata saya kepada Rani.

Lalu saya menanyakan kenapa ia hanya bisa sebentar saja bersama saya hari ini dan persoalan apa yang ingin ia bicarakan.

“Roy meminta saya untuk menemaninya pergi ke acara ulangtahun temannya nanti malam. Dia memang brengsek, tapi setelah kami bercakap-cakap dua hari lalu, aku rasa dia mungkin bisa berubah,” katanya.

Saya merebahkan punggung ke sofa, menjalin jari-jari di belakang kepala, dan menatap bibirnya yang masih saya ingat terasa sangat manis di bibir saya.

“Jadi kalian akan rujuk kembali?” tanya saya dengan nada yang malas.
“Kelihatannya begitu….aku juga tidak tahu pasti bagaimana kelanjutannya nanti,” jawab Rani.

“Bila tidak ada mobil patroli, berarti tidak ada batas kecepatan.”
– Peter Beckmann

“Oohhh,” gumam saya sambil memandang Rani dengan tatapan bosan. Seharusnya ia mengatakan hal itu sebelumnya di telepon, tanpa harus bertemu saya. Bukankah setiap pria normal pasti pernah menginginkan dua hubungan romantis sekaligus dalam sekali waktu?

Tiba-tiba saya sangat ingin Kiki kembali di depan saya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *