Diving Gili Trawangan: Catatan Seorang Pemula

SAYA pernah menjejakkan kaki di titik tertinggi pulau Jawa – puncak Mahameru (3.676 mdpl) – dan terpesona oleh kepulan asap vulkanik yang sesekali menyembur dari kawahnya. Saya pernah menempuh jarak 75 km bersepeda dalam sehari. Angkatan bench press di puncak performa saya adalah 100% bobot tubuh saya (waktu itu 60kg). Walaupun tidak ahli dalam segala hal, di beberapa bidang saya sangat kompetitif. Namun, seperti Anda semua, saya adalah seorang pemula mutlak dalam satu atau dua hal.
dive34
Berbicara sebagai seorang pemula, akhirnya tibalah kesempatan bagi saya untuk diving. Saya pecinta laut dan pantai, sebesar kecintaan saya pada aktivitas outdoor di pegunungan. Namun, khusus untuk diving, lama saya tunda keinginan untuk menjajalnya. Bukan apa-apa, kelemahan saya adalah mata minus. Saya pikir, apa gunanya saya menyelam kalau tidak bisa menikmati keindahan alam bawah laut? Syukurlah, saya baru tahu hal ini kemudian, teknologi telah memberikan kemudahan bagi saya – masker selam untuk mata minus.

Baiklah, saya mengaku. Itu bukan satu-satunya alasan saya menunda (atau menghindari) tantangan untuk menyelam. Serangan panik. Kisah-kisah tentang pria yang gagal menaklukkan tantangan ini karena serangan panik sudah sering saya dengar. Belum lagi, saya tidak punya sertifikat menyelam. “Tenang saja. Saya akan mengajarkan cara aman untuk menyelam – dari nol,” kata Mohni B. Haliman, instruktur selam kenalan kami yang bersertifikasi PADI sekaligus pemilik Lombak Dive.

Tidak ada lagi alasan. Dan berangkatlah saya ke Lombok beberapa waktu lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *