Main Api

Bunyi ”beep” samar dari depan saya. Hening. Lima menit lewat tanpa jawaban. Kemudian saya beranjak dari kursi dan pergi keluar kantor untuk mencari secangkir kopi panas-kental-hitam-manis.

Baru saja saya mulai menyeruput kopi, handphone saya bergetar menimbulkan rasa geli di dalam kantong celana. Sebuah sms dari si manis. Isinya sebuah penolakan. Ia menganggap saya seorang donjuan – kesimpulan yang ditariknya sepihak dari cerita orang tentang kencan-kencan saya. (Kabar buruk berkeliling dunia dua kali lebih cepat daripada suara).

”Apa yang mudah kamu dapat, pasti akan mudah pula kamu lepas. Jadi tetaplah berusaha,” katanya.

Ah, sebuah jebakan lagi. Ia menolak, tetapi meminta saya untuk tetap berusaha menyakinkannya tentang keseriusan saya. Ia menuntut sebuah komitmen. Dan saya rasa ketertarikan saya pada dia tidak dalam pengertian sebagaimana yang dia minta.

“Kehidupan adalah sekumpulan probabilitas.”
– Walter Bagehot, The World of Mathematics –

Kencan memiliki anatomi sebuah jembatan kecil yang harus dititih dengan hati-hati, penuh ranjau, dan terkadang Anda tidak boleh melakukan kesalahan.

”Apakah kamu serius dengan dia?” tanya Rudi, teman saya yang berkantor di belakang gedung kantor saya.

Saya tahu maksud pertanyaannya. Antara lelaki dan perempuan memang ada sebuah garis tipis yang memisahkan antara pertemanan dan asmara. Tetapi, selama itu berlangsung di ruang sempit dimana Anda berdua beraktivitas 8 jam sehari-5 hari seminggu, garis tipis itu sangat tegas. Bila Anda hanya menginginkan pertemanan, berlakulah sebagai teman. Artinya tidak ada tangan jahil yang menyelinap ke balik rok mininya. Jika Anda memberikan satu signal yang membingungkan, ia kemungkinan akan jatuh ke pelukan Anda dan selanjutnya – ketika selingan itu mulai membosankan – menjadi musuh yang paling mengerikan.

”Satu pikiran berbahagia…dan kamu akan terbang.”
– Tinker Bell, Peter Pan –

Saya mengerti itu. Tetapi saya benar-benar suka mendengar tawanya yang meningkatkan angka di termostat libido saya – walaupun benar juga bahwa ketertarikan saya hanya itu.

”Kamu benar-benar suka bermain api,” gerutu Rudi.

Rasanya Rudi benar. Dan saya sudah memiliki cukup banyak akhir pekan yang menyulitkan sejak berpisah dengan Noni. Saya tidak punya banyak waktu untuk hal-hal seperti ini. Jadi sebaiknya saya biarkan si manis berada dalam jarak yang aman.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *