Masa Kecil: Tanjung Priok 1984

Huru-hara politik kembali seperti menyeret takdirku untuk terjun ke dalamnya. Peristiwa itu terjadi ketika aku duduk di sekolah dasar di sebuah sekolah Katolik di belakang Rumah Sakit Koja, Tanjung Priok.

Aku masih ingat hari itu aku pergi dengan sepeda ke sekolah seperti biasa, dengan membonceng adikku yang duduk dua kelas di bawahku. Segala sesuatunya berjalan seperti biasa kecuali beberapa anak kecil seusiaku meneriakkan kata-kata anti Cina ketika aku lewat. Semula aku menghiraukannya karena kulitku memang lebih putih daripada orang-orang ras Melayu lainnya, karena aku mengenakan seragam sekolah di mana murid-muridnya mayoritas etnis Cina, dan makian anti Cina – walaupun tidak setiap hari kudengar – adalah hal yang tidak jarang ditujukan kepadaku meskipun aku bukan keturunan Cina.

Bahkan guru walikelasku yang galak dan tanpa ampun menerapkan kedisiplinan biara katolik di kelasku pun tidak tampak batang hidungnya.

Aku baru menyadari ada sesuatu yang salah pada hari itu ketika aku melihat sekolahku begitu sepi, tidak ada terlihat seorang pun temanku. Bahkan guru walikelasku yang galak dan tanpa ampun menerapkan kedisiplinan biara katolik di kelasku pun tidak tampak batang hidungnya. Kemudian penjaga sekolahku, seorang Flores, menyuruhku segera pulang. Tapi aku masih terlalu kecil untuk menyadari bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi.

Dengan adikku membonceng di belakangku, aku mengayuh sepeda dengan santai kembali ke rumah. Sepanjang jalan aku dengan gembira menikmati libur sekolah yang tidak kuketahui alasannya ini. Yang kupikirkan adalah rencana untuk mengumpulkan teman-teman sepermainanku dan melanjutkan aksi mencuri mangga tetangga.

Hanya sedikit gangguan yang kualami selama perjalanan pulang. Seperti sulapan, sebuah tenda yang biasa didirikan ketika orang mengadakan hajatan tiba-tiba sudah berdiri di tengah jalan yang biasa kulewati setiap hari. Segerombolan anak sepantaranku dari daerah itu mencegat aku dan adikku. Untung saja seorang bapak berpeci dengan wajah lembut mengusir anak-anak itu sebelum sesuatu terjadi pada kami.

Gangguan terbesar justru terjadi ketika aku dan gerombolan teman-temanku berkeliling komplek perumahan untuk mencuri mangga. Beberapa ratus meter dari kantor polisi di pinggir lingkungan tempat tinggalku banyak sekali truk militer dan personelnya berjaga-jaga. Aku dan teman-temanku diusir pulang. Tidak seorang pun dari kami yang menyadari bahwa semakin sore orang-orang dewasa yang kami temui terlihat semakin tegang.

Di kejauhan terlihat langit memerah oleh cahaya api. Kelihatannya warna merah menyala itu berasal dari daerah Koja, beberapa ratus meter dari sekolahku.

Aku pulang ke rumah dan menemukan ayahku, yang bekerja di sebuah apotik kecil di kawasan Permai, yang seharusnya bertugas jaga sore itu sampai menjelang pagi nanti, malah duduk merenung dengan asap rokok mengepul secara teratur dari mulut dan hidungnya. Aku tidak bertanya kenapa ia tidak bekerja. Aku pikir ia disuruh pulang oleh petugas jaga di kantornya dan mendapatkan libur tanpa alasan seperti diriku.

“Jangan pergi ke mana-mana lagi,” kata ayahku begitu melihatku datang.

6 thoughts on “Masa Kecil: Tanjung Priok 1984

  1. Lucunya, banyak upaya menuntut keadilan buat para korban dari massa demonstran. Tapi tidak ada satu pun upaya menuntut keadilan buat para korban yang tokonya dijarah dan dibakar oleh massa. 🙁

    1.  Salam kenal juga. Soal itu mayat-mayat itu juga sebenarnya kabar burung dari masa kecil. Tidak pernah ada konfirmasi tentang versi sejarah mana yang benar.

  2. Selamat malam, perkenalkan nama saya Inayatul, saya dari jurusan Sejarah dan tertarik membahas tentang kerusuhan yang terjadi di daerah Koja untuk bahan skripsi. kebetulan rumah saya di Jalan Kramat Jaya. yang ingin saya tanyakan apakah saya bisa mendapatkan Informasi terkait kerusuhan terhadap etnis Cina ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *