Menguji Cinta

Saya lalu menawarkan kesepakatan ini kepada Noni setelah terlebih dahulu mengatur agar kami bisa berlibur bersama. (Kondisi yang dituntut Noni bila kami hendak membicarakan persoalan-persoalan berat dalam hubungan kami).

“Hanya jika kehilangan segalanya barulah kamu bisa bebas untuk melakukan apapun.”
– Tyler Durden dalam Fight Club

“Untuk berapa lama?” tanya Noni. Sumringah wajah yang baru saja melalui permainan cinta yang menggebu-gebu di tempat tidur itu hilang seperti awan tipis disapu angin semilir.

Perempuan yang sudah berhubungan dengan saya selama bertahun-tahun ini membalikkan badannya di atas tempat tidur, menopang dirinya dengan bantal kuning yang kontras dengan seprai putih dan lingerie merah jambunya. Rambutnya yang kini bercat pirang mengurai seakan siap menjirat leher pria mana saja yang berada di dekatnya.

“Katakanlah enam bulan,” jawab saya dari bangku di seberang tempat tidur, sambil membenahi posisi duduk dan menarik karet celana boxer saya lebih ke atas lagi, “bila kita bisa lolos dari ujian ini berarti memang kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh.”

“Tidak ada kontak sama sekali di antara kita selama masa itu? SMS, telpon, email, atau apapun?” tanyanya lagi.

“Memikirkan hal itu pun sebaiknya jangan,” tandas saya berusaha mengabaikan kelemahan feminin yang menggantung di sudut matanya.

“Aku akan membuat penawaran yang tidak akan dapat dia tolak.”
– Michael Corleone, The Godfather

Tanpa bisa menghindar saya harus menceritakan apa yang terjadi di antara Noni dan saya kepada Roni, teman baik saya yang lain, seorang suami dari satu istri dan ayah dari satu anak -, ketika saya datang tanpa Noni dalam acara makan malam kecil untuk perayaan ulangtahun perkawinannya yang kelima.

“Itu benar-benar pengaturan yang bodoh. Kamu tidak sungguh-sungguh dengan kesepakatan seperti itu, kan?” kata Roni.

Rentetan pertanyaan berikutnya menggebrak dengan kekasaran yang tidak mengenal kesopanan. Apakah saya bisa menerima bahwa Noni juga punya hak yang sama dengan saya dalam pengaturan ini? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa saya tidak akan kehilangan wilayah pribadi di dalam kehidupan Noni bila saya memutuskan untuk berada di luar lingkaran kehidupannya sementara waktu? Bagaimana kalau ada seorang pria yang cukup licik menyelinap di tengah kekacauan ini dan menjarah tempat saya di sana? Tidak ada seorang pun lelaki yang bisa menerima kemungkinan seperti itu.

“Tentu saja aku tidak sebodoh itu, kawan,” jawab saya tanpa keyakinan.

Percakapan dengan Roni belakangan menjadi salah satu percakapan yang paling saya sesali. Karena telah membuat saya berpikir lain dan tiba-tiba saja membuat saya merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya.

Tetapi apa yang harus saya lakukan? Menelpon Noni dan membatalkan pengaturan yang saya tawarkan seminggu lalu? Menjilat kembali ludah yang sudah bercampur dengan debu tanah?

“Pria pintar selalu benar, bahkan ketika salah – ia selalu benar.”
– Lefty dalam Donnie Brasco –

Harga diri saya terlalu besar. Jadi saya memutuskan untuk menunggu, membiarkan semuanya berjalan sesuai kesepakatan, dan menghabiskan sisa akhir pekan saya dengan menonton DVD. Mungkin, -bila beruntung-, saya akan benar-benar menikmati kebebasan ini sekaligus tetap memiliki Noni enam bulan kemudian.

“Mungkin cinta bukan hal yang membutuhkan usaha keras,” kata Renee Zelweger dalam film Jerry McGuire di layar televisi seperti menyindir ketololan saya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *