Menuju Konvergensi Ruang Berita

Namun, Memiliki dan menerapkan satu model konvergensi ruang berita saja tidak cukup untuk menjawab masalah ini. Platform media baru yang berkembang pesat dan keperluan untuk menerapkan konvergensi ruang berita bukanlah tantangan terbesar bagi perusahaan media saat ini. Tantangannya justru ada pada para pekerja yang menjalankan ruang berita. Artinya, menyinggung kembali apa yang sudah saya tulis di posting sebelumnya, tantangan terbesar adalah bagaimana mengembangkan staf ruang berita sehingga memiliki keterampilan baru untuk pengelolaan ruang beritanya yang sudah berubah dan bagaimana mengubah struktur kekuasaan dan hubungan kerja di ruang berita. Singkatnya, pelatihan-pelatihan terkait dengan produksi konten untuk kebutuhan multiplatform, model kepemimpinan yang sesuai dengan ruang berita yang konvergen, dan peninjauan kembali atas skema apresiasi yang diberikan perusahaan media kepada stafnya atas performa kerja mereka.

Dukungan para pemimpin
Seringkali, konvergensi -seperti halnya juga perubahan yang cenderung pertama-tama diterima secara apriori- hanya berlangsung di permukaan saja. Maksudnya, konvergensi ruang berita merupakan kebijakan perusahaan di atas kertas yang dipaksakan oleh para pemimpin di ruang berita (bisa di level tengah, atas, atau level direksi dan managemen perusahaan) kepada para stafnya karena bila tidak melakukan itu mereka takut kehilangan kendali atas ruang beritanya. Mereka takut digeser oleh mereka yang bisa mengendalikan dan memahami konsep atau model konvergensi ruang berita. Para pemimpin ini tetap orang yang sangat berkuasa di dunia mereka yang lama – dunia media cetak, namun kurang memiliki pemahaman tentang platform media lainnya. Karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang platform media lain, khususnya media online, para pemimpin ini memang terlihat memaksakan konvergensi ruang berita (karena tuntutan managemen perusahaan) namun di saat yang sama menjaga agar media onlinenya tetap kerdil (karena takut ketidakpahaman dan kurangnya pengetahuan tersebut diketahui). Sadar atau tidak sadar, para pemimpin ini tetap berupaya mempertahankan dominasi cetak atas online. Dan ini akan membuat para stafnya yang memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keahlian yang sudah berkembang sesuai kebutuhan konvergensi ruang berita (dan dikhawatirkan dapat menggeser posisi pemimpin atau membuat “kekuasaan” sang pemimpin dipertanyakan) menjadi frustrasi.

Bagaimana menghadapi para pemimpin yang menelikung proyek ini? Perusahaan media harus bekerjasama dengan para pemimpin terbaik di perusahaannya dan membuat mereka percaya kenapa proyek konvergensi ini merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan dan juga karier mereka. Untuk itu, mungkin perusahaan juga perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk para pemimpin ini.

Berjalannya konvergensi ruang berita sangat tergantung pada para pemimpin platform media trasional yang paham dan percaya kenapa proyek tersebut harus dijalankan, yang juga antusias terhadap pelaksanaan proyek, dan -yang juga penting- pemimpin yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memediasi berbagai kepentingan yang dimiiliki oleh berbagai platform media yang terlibat dalam proyek konvergensi ini.

Tentu saja perusahaan juga harus tetap realistik. Tidak mungkin semua orang di dalam ruang berita secara instan akan bersedia bermigrasi ke ruang berita yang sudah konvergen. Semua orang di ruang berita yang lama sudah terkondisikan punya tanggungjawabnya sendiri – jumlah halaman yang harus diisi, jumlah artikel yang diedit, jumlah isu yang diliput, dan sebagainya. Promosi atau apreasiasi yang mereka terima juga tidak tergantung pada sukses atau tidaknya konvergensi ruang berita – paling tidak sesuai deskripsi pekerjaan di era ruang berita tradisional. Jika proyek konvergensi ruang berita (dalam hal ini tuntutan untuk memenuhi halaman-halaman online atau digital) membebani, mereka akan mendahulukan tugas-tugas mereka untuk ruang berita mereka yang lama (baca: media cetak). Di sinilah peran penting para pemimpin di perusahaan media untuk menjadi mediator benturan kepentingan di atas.

Menempatkan para agen di kalangan staf
Managemen perusahaan melulu melihat proyek konvergensi ruang berita sebagai jawaban atas tantangan untuk bertahan hidup di tengah platform dan pola konsumsi media yang sudah berubah, tentunya juga sebagai peluang untuk membuka saluran penghasilan baru. Sementara, para staf di ruang berita mengalami dampak terbesar dari proyek ini. Di ruang berita tersebut, proses konvergensi menghantam habis-habisan kenyamanan hidup, alur kerja yang sudah mapan, dan menimbulkan kekhawatiran mendasar tentang masa depan di kalangan staf. Bisa jadi yang terakhir ini adalah hal yang paling tidak diantisipasi oleh perusahaan media. Para staf kemudian melakukan pembangkangan diam-diam dan menjerumuskan proyek konvergensi ke dalam skenario terburuk di atas – keterpecahan ruang berita.

Problem terbesarnya mungkin adalah keahlian yang dimiliki orang-orang yang ada di ruang berita sudah tidak sesuai dengan keahlian yang dituntut dari profesi mereka sekarang – atau keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan ruang berita yang mengalami proses konvergensi. Seorang jurnalis yang hebat mungkin sangat bisa diandalkan untuk mendapatkan berita-berita terkini, namun mungkin ia tidak cukup terampil untuk melakukan pekerjaan editor – apalagi memproduksi konten multimedia. Seorang produser bisa saja
memproduksi konten dalam bentuk podcast atau video, namun mungkin tidak cukup dapat diandalkan untuk menulis webtext atau artikel untuk keperluan edisi cetak.

Perusahaan, melalui para pemimpin, perlu mengidentifikasi para staf yang bisa ditempatkan sebagai agen perubahan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hasrat besar terhadap bentuk-bentuk media baru dan perkembangan teknologi. Mereka juga sudah menggunakannya dalam pekerjaan mereka. Identifikasikan orang-orang seperti ini dan latihlah mereka sehingga bisa mengajari staf lain cara menggunakan teknologi dan media baru untuk mempermudah hidup mereka. Berdayakanlah mereka dan berilah insentif sebaik mungkin.

Menggeser paradigma di kepala para staf
Untuk kalangan staf yang lain, perlu dibuat perencanaan untuk pengembangan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki sehingga semakin mendekati kebutuhan staf yang diperlukan untuk ruang berita yang konvergen. Perlunya perencanaan di sini karena perusahaan tidak bisa dengan semena-mena berasumsi bahwa setiap orang bisa belajar tentang segala hal dengan segera. Mulailah dengan target-target awal yang mudah dicapai oleh setiap orang secara spesifik. Rencanakan untuk mengembangkan keterampilan di ruang berita Anda sampai sekitar dua tahun ke depan, bukan dua minggu ke depan. Perlakukan kelas-kelas pelatihan sebagai “penggeser paradigma” untuk memunculkan kesadaran di dalam diri para staf atas perlunya pengembangan keterampilan, sementara pengembangan keterampilannya sendiri berlangsung dalam praksis. Ikuti proses tersebut dengan pengukuran atas kemajuan yang dicapai setiap orang dan kaitkan kemajuan tersebut dengan promosi, kenaikan gaji, tambahan insentif, dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *