Persimpangan Hidup

Faktanya, dulu Lisa sudah mengambil pilihan itu. Begitu juga saya. Dan tidak satupun di antara kami yang bisa menggulung kembali benang waktu itu. Apa yang disesali oleh Lisa adalah sesuatu yang di luar tangggungjawab saya.

“Perkawinan adalah cerita roman dimana para pahlawannya mati di babak awal.”
– Anonim –

Bila Lisa benar-benar ingin memberontak terhadap rumah dan keluarganya, seharusnya itu dilakukan ketika kesempatan masih ada. Seseorang sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupan Lisa sekarang. Terlalu banyak hambatan. Terlalu banyak kesulitan. Dan saya kira itu kesusahan yang terlalu berlebihan.

Sejarah selalu berulang. Sepertinya ada setan di dalam kehidupan setiap orang yang selalu mencari jalan untuk menguasai kembali hidup Anda. (Saya tidak mengerti mengapa selalu bertaut dengan Lisa setiap kali hubungan saya dengan Noni berada di titik paling rendah.)
Bayangan Lisa dan sisa percakapan tadi masih terus menghantui sisa hari saya di sebuah lounge bersama sebotol Chianti sambil mendengarkan kesedihan lain dari mulut seorang wanita yang pernah berpose seksi untuk artikel ini.

“Waktu adalah guru terbaik, tetapi sayangnya ia membunuh semua muridnya.”
– Hector Berlioz –

Saya sudah hampir sampai pada kesimpulan bahwa ini bukan hari yang terlalu buruk (setiap pria tahu bahwa ada jalan yang sangat mudah untuk masuk ke dalam hati seorang perempuan yang sedang rapuh.) Kalau saja perempuan itu tidak mulai bercerita panjang-lebar tentang kisah cintanya yang selalu kandas, tentang pria-pria yang mengganggu hidupnya, bujuk-rayu yang palsu, dan kebiasaannya jatuh cinta pada pria asing. Saya tahu bahwa malam ini tidak akan beranjak lebih jauh dari sini. (Jadi buat apa bersusah-susah menghiburnya?)

Di perjalanan pulang, sejuta pertanyaan merajam kepala saya dengan kejam. Apakah hubungan saya dengan Noni juga akan bertabrakan lagi dengan hantu masa silam bila dua bulan nanti kami berdua sampai pada keputusan yang membawa kami pada cabang jalan hidup yang tidak diinginkan?

Terkutuklah para penulis roman dan pemujaan terhadap cinta yang melambung ke langit. (Maaf, tuan H.C. Andersen. Faktanya, saya tidak pernah menyukai Anda.) Saya lebih percaya pada cinta dalam arti yang lebih nyata – walaupun terkadang membuat remuk, setidaknya cukup manusiawi untuk digumuli di tempat tidur – daripada roman yang terlalu tinggi untuk diraih manusia normal.

“Gravitasi tidak berlaku untuk mereka yang sedang jatuh cinta.”
– Albert Einstein –

Telepon genggam saya menciptakan suara dengung di atas meja. Pesan singkat dari Noni.

“Hai, sayang. Aku sedang berada di Cause Way Bay sekarang. Big sale! Kowloon benar-benar surga belanja. Aku belikan kamu tiga buah t-shirt Nautica.”

Pulang dari perjalanan mengelilingi hampir separuh dunia hanya membawa segunung belanjaan yang bisa diperoleh di Jakarta? Mungkin saya salah. Mungkin cinta benar-benar absurd seperti dongeng pengantar tidur lainnya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *