Pria Tak Pernah Salah

Sejak perkenalan kami di sebuah acara wine tasting enam bulan lalu, saya menikmati benar waktu saya bersama Amanda di tempat tidur, di dapur apartemennya, ataupun ketika kami bercerita dan tertawa di sebuah cofee shop atau wine lounge. Semuanya benar-benar menyenangkan. (Seks-nya juga hebat). Sampai sisi kewanitaannya mulai histeris dan – di tingkat yang parah – menginvasi teritori kelelakian saya.

“Kecepatan-intensitas-volume-power adalah mantra kehidupan pria modern.”
– Don’t Stand Too Close To A Naked Man, Tim Allen

Barangkali saya tidak bisa menyalahkan Amanda – meskipun saya yakin sekali bahwa saya juga tidak bersalah. (Toh, perempuan lain itu bukan siapa-siapa). Saya katakan kepadanya bahwa mungkin ia memang terlalu menuntut (dan benar-benar menyebalkan!), tetapi itu bukan salahnya. Mungkin memang seperti itulah adanya dia.

Tetapi, nyatanya, apapun yang saya katakan dalam keadaan seperti itu malah membuat Amanda menjadi semakin histeris dan menimbulkan kegaduhan dengan pintu apartemennya sendiri. Amanda sepertinya punya cara menumpahkan kekesalan yang sama gilanya dengan caranya bermabuk-mabukan bersama botol-botol grand cru berharga jutaan rupiah.

Jiwa saya yang gelisah bangun dengan limbung. Mandi. Makan. Lalu tertawa membaca lembar-lembar cerita tentang seorang pria bernama Dick (baca: penis). Sebuah cerita yang menarik tentang penis.

Saya kira penis adalah organ yang sangat emosional. Ia adalah barometer ego Anda. Pria pasti tahu bagaimana sulitnya mengabaikan penis. Anda bisa mengabaikan liver Anda dengan mudah, juga pankreas, atau kolorectal. Organ-organ itu bekerja secara diam-diam, dan Anda hanya menyadari kehadiran mereka bila organ-organ itu mengalami kerusakan fungsi.

Tidak demikian halnya dengan penis. Ia selalu memastikan bahwa Anda sadar dia berada di bawah sana. Bergeser, mengembang ketika melihat belahan dada yang rendah seorang perempuan seksi yang duduk di hadapan Anda ketika berada di ruang tunggu, menciut kembali ketika perempuan itu dipanggil masuk. Ia harus selalu disentuh, digeser, dibenahi posisinya (terlalu cepat menarik ritsleiting bisa berakibat fatal), diarahkan (dalam arti yang sebenarnya), dan disembunyikan baik-baik di balik celana Anda (jangan lupa mencuci tangan Anda).

Dan perempuan selalu mengatakan bahwa itulah masalah kita – terlalu sibuk dengan penis (dan ego) kita. Yang mereka tidak pahami adalah kita – pria – tidak berfungsi tanpa keduanya.

Beberapa jam kemudian, suara Amanda terdengar parau di telepon saya – kurang tidur dan banyak menangis.

”Maafkan aku sudah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan kemarin,” katanya, ”bagaimana kalau kita melupakannya dan mulai lagi dari awal lagi?”

Saya biarkan keheningan menggantung.

”Halo? Kamu masih di situ?” suara Amanda lagi.

“Jika aku berjanji akan merindukanmu… maukah kamu pergi?”
– Anonim

”Yah, sorry, tidak apa-apa. Rasanya sekarang aku sedang butuh waktu dengan diriku sendiri. Bagaimana kalau lain hari kutelpon lagi?,” jawab saya tanpa tahu apakah saya akan menelponnya lagi atau menghilang begitu saja persis seperti ketika kabur dari apartemennya malam kemarin.

Berakhir di situ. Saya kira saya melakukan hal yang benar. Belum terlalu terlambat untuk menjemput perempuan yang ingin pergi bersama saya ke Gunung Halimun.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *