Salah Sambung

Saya tidak pernah menduga akan mendapatkan reaksi yang sangat keras dari Tommy ketika saya meneleponnya untuk bicara tentang Mia.
“Hei….masih ingat Mia?” tanya saya.

“Persahabatan itu seperti uang – lebih mudah mendapatkannya daripada menyimpannya.”
– Samuel Butler –

“Ya, kenapa?” jawab Tommy.

“Apakah kamu pernah berkencan dengan dia?” tanya saya lagi.

“Belum. Hubungan kami baru sebatas percakapan lewat telepon. Kenapa?”

“Aku meneleponnya semalam dan kami berbicara panjang lebar. Itu adalah percakapan telepon pertama antara aku dan Mia. Tetapi kami merencanakan sebuah kencan dalam waktu dekat ini,” saya bercerita kepada Tommy tanpa prasangka.

“Bajingan! Itu kan sama saja kamu menusukku dari balik lipatan.”.
Pengkhianatan! Tuduhan paling rendah apalagi yang bisa dilontarkan seorang pria selain itu?

“Aku kira urusanmu dengan perempuan itu sudah selesai. Bukankah sudah berbulan-bulan sejak aku mendapatkan nomor teleponnya darimu?” kilah saya.

Tentu saja saya tidak merasa bersalah. Lagipula buat apa Tommy memberikan nomor telepon perempuan itu bila ia masih berminat untuk mendekatinya dan tidak menginginkan adanya persaingan di antara kami?

“Jadi salahku kalau aku tidak seagresif kamu?” sergahnya lagi tanpa ampun sambil membanting gagang telepon.

Dan saya jadi sadar bahwa persahabatan kami sedang dalam bahaya. Maka saya mengirimkan sms kepada Tommy – karena tahu ia tidak akan menerima telepon saya setelah pembicaraan kami tadi – yang menyatakan bahwa saya akan menarik diri dan membiarkan Tommy melanjutkan upayanya mendekati Mia tanpa harus mengkhawatirkan adanya interupsi dari saya.

Ternyata saya tidak sepenuhnya memahami akibat dari tindakan konyol saya menelepon Mia. Saya sudah terlanjur mengambil langkah yang salah – meskipun itu bukan sebuah kesengajaan. Seharusnya sedari awal saya bertanya kepada Tommy apakah saya sudah bisa mendekati Mia. Tetapi itu tidak saya lakukan.

Tetapi persoalannya bukan apakah saya mau melepaskan kesempatan untuk mendapatkan Mia. Sekarang saya tidak bisa berharap bahwa hanya dengan menahan langkah, memberikan tempat kepada Tommy, lalu semuanya bisa kembali normal. Tidak ada seorang pria pun yang bersedia mengambil tawaran seperti itu. (“Hei, kawan, kamu terlalu lambat. Okelah aku mengalah dengan memberimu kesempatan melangkah lebih dulu.”). Ada terlalu banyak harga diri yang dikorbankan.

“Jadi orangtuamu sedang keluar kota?” tanya saya kepada Mia kemarin malam lewat telepon.

Mia kemudian bercerita tentang tradisi keluarga berkumpul di rumah kakeknya setiap akhir tahun. Tahun ini ia tidak bisa ikut karena ada urusan dengan dosen pembimbing.

“Saya tidak suka bercinta dengan beberapa orang sekaligus pada saat yang sama karena hal itu membuat saya tidak tahu dimana saya harus meletakkan tangan saya.”
– Martin Cruz Smith –

“Aku sendirian di rumah selama mereka di luar kota. Mau mampir kemari?”

Saya tidak tahu apa yang ada di balik tawaran menggiurkan itu. Persetan! Seharusnya saya tidak usah memberitahu Tommy bahwa saya menghubungi Mia.

“Hmm…mungkin lain waktu. Ada pekerjaan yang sudah harus siap besok pagi-pagi sekali,” jawab saya.

“Okelah kalau begitu. Telepon aku yah”.

Di hari-hari berikutnya kami tetap saling menelepon. Tetapi jadwal kami tidak pernah cocok. Sampai akhirnya frekwensi hubungan lewat gelombang elektromagnetik itu semakin sayup dan kemudian benar-benar hilang.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *